Bali Collection-Nusa Dua, 1-3 Oktober 2026
Bali Collection, Nusa Dua | 1–3 Oktober 2026
Ada banyak cara untuk merekam sebuah festival.
Sebagian orang melakukannya lewat foto, sebagian lewat video, dan sebagian lagi lewat catatan singkat yang mudah terlupakan.
CigarComic memilih cara yang berbeda: menjadikannya cerita visual.
Melalui CigarComic Special Edition — Indonesian Cigar Festival 2026, kami menghadirkan perjalanan festival dalam bentuk komik digital yang kini berkembang menjadi 8 halaman spesial, terinspirasi dari suasana nyata Indonesian Cigar Festival (ICF) 2026 di Bali Collection, Nusa Dua.
Edisi ini bukan sekadar dokumentasi acara, tetapi interpretasi visual tentang cigar, komunitas, budaya, persahabatan, lifestyle, dan atmosfer Bali yang bertemu dalam satu ruang.
Sejak memasuki kawasan festival, Indonesian Cigar Festival 2026 langsung menghadirkan identitas visual yang kuat.
Instalasi pintu masuk ikonik, deretan booth dari berbagai brand, panggung hiburan, area lounge, dan suasana hangat khas Bali menjadikan festival ini terasa hidup sejak langkah pertama.
Bagi CigarComic, ICF 2026 bukan sekadar ruang promosi produk.
Festival ini adalah tempat bertemunya banyak cerita:
pelaku industri,
pengunjung,
komunitas,
brand lokal maupun internasional,
dan para penikmat cigar yang datang dengan karakter serta perspektif berbeda.
Karena itu, special edition ini dikembangkan bukan hanya sebagai “liputan visual”, melainkan sebagai sebuah perjalanan naratif.
Edisi spesial ini dibuka dengan cover utama Indonesian Cigar Festival 2026, yang merangkum energi acara dalam satu komposisi visual: keramaian pengunjung, ikon festival, brand display, dan karakter-karakter CigarComic yang hadir sebagai pemandu suasana.
Perjalanan kemudian berlanjut ke halaman-halaman awal yang membawa pembaca masuk ke area festival, menyusuri booth, menikmati panggung, serta merasakan bagaimana cigar culture bukan hanya soal produk, tetapi juga soal pertemuan, percakapan, dan relasi antarmanusia.
Salah satu bagian penting dalam update special edition ini adalah hadirnya halaman khusus AKAR NUSANTARA.
Dengan identitas “Cigars, Culture & Community,” AKAR NUSANTARA tampil sebagai representasi narasi lokal yang kuat.
Elemen budayanya terasa melalui:
visual booth,
desain produk,
kemasan,
tote bag,
hingga karakter brand yang terasa hangat dan berkelas.
Dalam halaman ini, CigarComic menangkap kesan bahwa sebuah brand tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa rasa, budaya, dan kebanggaan identitas ke dalam suasana festival.
Update berikutnya menghadirkan halaman khusus Wismilak Cigar.
Di sini, fokus narasinya bergeser ke pengalaman yang lebih sosial dan personal: booth yang ramai, obrolan yang hangat, suasana yang akrab, serta momen kebersamaan yang memperlihatkan bagaimana festival semacam ini dapat membangun hubungan antarmanusia.
Halaman Wismilak Cigar mempertegas satu hal:
cigar culture juga hidup lewat suasana, interaksi, dan persahabatan.
Bukan hanya soal mencicipi atau melihat produk, tetapi juga tentang bagaimana sebuah booth bisa menjadi ruang bertemu, ruang bercakap, dan ruang membangun kesan.
Special edition ini kemudian berkembang dengan satu halaman perjalanan baru: mengunjungi booth-booth pilihan.
Dalam bagian ini, karakter utama diajak menjelajahi beberapa booth yang memiliki daya tarik dan karakter masing-masing, di antaranya:
Besuki Raya, dengan bahan baku dan identitas proses yang menarik perhatian,
El Gaucho, dengan display produk yang rapi dan elegan,
Esperitu, yang tampil dengan karakter booth yang khas.
Halaman ini memperkuat dinamika cerita karena festival terasa semakin luas, kaya, dan penuh detail.
Setiap booth hadir bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai pengalaman berbeda yang memberi warna tersendiri pada perjalanan di ICF 2026.
Sebagai penutup visual yang paling meriah, special edition ini kini ditutup dengan halaman Tuksedo Studio.
Di area ini, suasana festival bertemu dengan elemen lifestyle yang sangat kuat:
mobil klasik, cigar lounge, cahaya malam, dan nuansa premium yang penuh karakter.
Tuksedo Studio menjadi latar penutup yang sangat ideal karena menghadirkan energi yang berbeda.
Bukan hanya pameran visual, tetapi juga simbol bahwa festival ini menyatukan:
gaya hidup,
selera,
pengalaman,
dan momen kolektif yang sulit dilupakan.
Dalam halaman terakhir, Anda tampil bersama para tokoh CigarComic di depan mobil klasik sebagai pose penutup yang meriah, seolah menandai bahwa perjalanan festival ini berakhir bukan dengan kesunyian, tetapi dengan kesan yang paling hidup.
Saat ini, CigarComic Special Edition — Indonesian Cigar Festival 2026 telah berkembang menjadi 8 halaman, yaitu:
Pembuka visual yang merangkum atmosfer utama Indonesian Cigar Festival 2026.
Perjalanan memasuki Bali Collection dan mulai menjelajahi suasana festival.
Fokus pada pengalaman menikmati cigar, percakapan, dan interaksi sosial.
Menangkap energi panggung, area tenda, dan semangat komunitas.
Halaman khusus yang menyoroti identitas lokal dan nuansa budaya dalam pengalaman festival.
Menampilkan suasana booth, kehangatan komunitas, dan interaksi yang membangun kesan personal.
Perjalanan menjelajahi Besuki Raya, El Gaucho, dan Esperitu sebagai bagian dari pengalaman festival.
Grand closing visual dengan nuansa lifestyle, karakter CigarComic, dan pose meriah di depan mobil klasik.
Melalui special edition ini, CigarComic terus memperluas bentuk penceritaan visualnya.
Festival tidak lagi hanya dilihat sebagai event, tetapi juga sebagai:
ruang pertemuan,
panggung budaya,
arsip pengalaman,
dan sumber cerita yang bisa diterjemahkan ke dalam medium komik.
Dengan pendekatan ini, CigarComic mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda:
bukan hanya melaporkan sebuah acara, tetapi menghidupkannya kembali dalam bentuk cerita.
Dan Indonesian Cigar Festival 2026 di Bali telah menjadi salah satu momen terbaik untuk itu.
Dari booth ke booth, dari siang ke malam, dari obrolan ke persahabatan, dari produk ke gaya hidup — seluruh perjalanan itu kini hidup dalam CigarComic Special Edition - ICF 2026.
Sebuah festival boleh selesai, tetapi cerita yang lahir di dalamnya bisa terus tinggal.
CIGARCOMIC — EVERY LEAF HAS A STORY.
Catatan Redaksi:
CigarComic Special Edition merupakan karya editorial dan interpretasi artistik berbasis dokumentasi visual kegiatan. Publikasi ini ditujukan untuk audiens dewasa.
Menyesap Cerita dari Kota Cerutu
Ada perjalanan yang dimulai karena sebuah undangan. Ada pula perjalanan yang dimulai karena rasa ingin tahu. Bagi Prof. Dapatabi, perjalanan menuju Jember dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:
Bagaimana mungkin selembar daun yang tumbuh dari tanah Indonesia dapat memiliki cerita yang dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia?
Untuk menemukan jawabannya, Prof. Dapatabi menuju Jember Kota Cerutu Indonesia — JKCI Festival 2026. Namun ia segera menemukan bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang cerutu.Ini adalah perjalanan tentang tanah, manusia, pengetahuan, tradisi, inovasi, dan sebuah ekosistem yang sedang mencari jalannya menuju dunia.
Sebelum memasuki ruang pameran, Prof. Dapatabi memilih melihat tempat semuanya bermula.
Perkebunan.
Di antara hamparan daun tembakau, ia bertemu petani yang telah mengenal tanaman itu jauh lebih lama daripada istilah-istilah ilmiah yang sering dibacanya. Sang petani mengambil selembar daun. “Daun yang bagus tidak lahir hanya karena bibitnya, Prof.”
Tanah.
Hujan.
Matahari.
Angin.
Musim.
Dan pengalaman manusia.
Semuanya ikut menentukan.
Prof. Dapatabi memandang daun di tangannya. Satu kata muncul dalam pikirannya:
Terroir.
Tetapi sang petani menjelaskannya dengan bahasa yang jauh lebih sederhana.
“Tanah yang cocok.”
Prof. Dapatabi tersenyum.
Kadang ilmu pengetahuan menciptakan istilah panjang untuk sesuatu yang telah dipahami manusia melalui pengalaman selama beberapa generasi.
CATATAN DAPATABI
Terroir bukan sekadar tempat tanaman tumbuh.
Ia adalah harmoni antara tanah, iklim, waktu, tanaman, dan manusia yang membentuk karakter yang sulit ditiru.
Ketika memasuki JKCI 2026, Prof. Dapatabi berhenti sejenak.
Di hadapannya bukan hanya deretan booth cerutu.
Ada petani.
Manufaktur.
Blender.
Penikmat.
Pengusaha.
Investor.
Komunitas.
Dan tamu dari berbagai negara.
Percakapan terjadi di mana-mana.
Tentang daun.
Tentang rasa.
Tentang produksi.
Tentang pasar.
Tentang masa depan.
Prof. Dapatabi mengamati semuanya.
Kemudian menulis:
“Ini bukan sekadar festival cerutu.”
“Ini sebuah ekosistem.”
Di salah satu sudut pameran, Prof. Dapatabi menemukan sesuatu yang tampak sederhana.
Sebatang cerutu.
Tetapi ketika dibuka lapis demi lapis, kesederhanaan itu menghilang.
Ada tiga elemen utama.
Wrapper.
Pembungkus terluar yang ikut menentukan aroma, penampilan, tekstur, dan kesan pertama.
Binder.
Daun pengikat yang membungkus filler, menjaga konstruksi dan membantu cerutu terbakar dengan baik.
Dan di bagian terdalam:
Filler.
Isi cerutu.
Di sinilah berbagai daun dengan karakter berbeda dapat dikombinasikan untuk membangun body, aroma, kekuatan, kedalaman, dan kompleksitas rasa. Prof. Dapatabi memperhatikannya seperti seorang ilmuwan melihat sebuah mesin.Tetapi mesin ini hidup. Bahan bakunya tumbuh dari tanah. Dan hasil akhirnya sangat bergantung pada manusia.
CATATAN DAPATABI
Cerutu yang hebat bukan tentang menemukan satu daun terbaik.
Ia adalah tentang bagaimana banyak karakter berbeda bekerja sebagai satu kesatuan.
Perjalanan berikutnya membawa Prof. Dapatabi menuju dunia blending.
Berbagai daun tersusun di atas meja.
Masing-masing memiliki karakter.
Ada yang kuat.
Ada yang lembut.
Ada yang memberikan aroma.
Ada yang memberikan body.
Ada pula yang hadir untuk menciptakan keseimbangan.
Prof. Dapatabi memperhatikan seorang blender bekerja.
“Jadi Anda sebenarnya seperti seorang arsitek?”
Blender itu tersenyum.
“Arsitek?”
Prof. Dapatabi menunjuk daun-daun di atas meja.
“Seorang arsitek tidak menciptakan batu, kayu atau baja.”
“Ia menyusunnya menjadi sebuah pengalaman.”
“Dan Anda…”
“…menyusun daun menjadi pengalaman rasa.”
Blender tertawa.
Prof. Dapatabi kembali membuka buku catatannya.
CATATAN DAPATABI
Blending adalah pertemuan antara seni, sains, pengalaman, dan intuisi.
Di JKCI, Prof. Dapatabi kemudian menemukan berbagai cerutu yang membawa identitas Indonesia.
Nama lokal.
Daun lokal.
Karakter lokal.
Namun kualitas dan ambisinya tidak berhenti pada batas geografis.
Di antara eksplorasinya terdapat lini cerutu dari BIN Cigar.
Sakera Piramides.
Gran Cigarro.
Dan satu nama yang membuat Prof. Dapatabi tersenyum:
El Bomba.
Ia mengangkat cerutunya.
“Yang ini tidak perlu penelitian terlalu panjang.”
Seseorang bertanya:
“Kenapa, Prof?”
Prof. Dapatabi tersenyum.
“Karena saya sudah tahu saya menyukainya.”
Untuk sesaat, sang profesor berhenti menjadi peneliti.
Ia menjadi penikmat.
Di bagian lain festival, percakapan berlangsung dalam berbagai bahasa.
Orang-orang datang dengan latar belakang berbeda.
Budaya berbeda.
Pasar berbeda.
Selera berbeda.
Namun ketika mereka duduk bersama, ada satu hal yang menghubungkan mereka:
apresiasi terhadap kualitas dan cerita
Prof. Dapatabi melihat cerutu dari perspektif yang berbeda.
Cerutu ternyata bukan hanya komoditas.
Ia dapat menjadi pembuka percakapan.
Jembatan budaya.
Pertemuan bisnis.
Bahkan bentuk diplomasi yang sangat sederhana.
Tidak selalu melalui podium.
Kadang cukup melalui sebuah meja.
Beberapa kursi.
Dan waktu untuk berbicara.
Malam semakin larut.
Prof. Dapatabi duduk sambil memperhatikan aktivitas JKCI.
Ia mulai menyusun apa yang ditemukannya.
Jember memiliki tanah.
Petani.
Daun berkualitas.
Pengetahuan.
Manufaktur.
Blender.
Produk.
Event.
Komunitas.
Dan jaringan internasional.
Ia menarik sebuah garis dalam buku catatannya.
Dari hulu menuju hilir.
Kemudian ia berhenti.
Nilai terbesar Jember ternyata bukan hanya pada daun tembakaunya.
Nilai terbesarnya berada pada ekosistem yang menghubungkan semuanya.
CATATAN DAPATABI
Ketika sebuah ekosistem kuat, nilai ekonomi tidak berhenti pada bahan baku.
Ia tumbuh sepanjang rantai nilai.
Prof. Dapatabi membuka halaman baru.
Ia mulai menggambar.
Sebuah cigar lounge.
Kemudian menulis:
BALI.
Sketsa kedua muncul.
LABUAN BAJO.
Lalu beberapa kata lain:
CERUTU + KOPI + KULINER + BUDAYA + HOSPITALITY
Prof. Dapatabi terdiam.
Bagaimana jika Indonesia tidak hanya mengekspor cerutu?
Bagaimana jika Indonesia juga menciptakan pengalaman menikmati cerutu Indonesia?
Sebuah tempat di mana cerutu bertemu kopi Nusantara.
Kuliner.
Desain.
Musik.
Budaya.
Pariwisata.
Dan percakapan.
Saat itulah Prof. Dapatabi menemukan sesuatu yang sejak awal sebenarnya sedang ia cari.
Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru.
Kadang inovasi terjadi ketika kita menghubungkan hal-hal yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Perjalanan Prof. Dapatabi di Jember akhirnya mendekati akhir.
Ia datang mencari tahu tentang selembar daun.
Tetapi ia pulang membawa pemahaman tentang sebuah ekosistem.
Tentang tanah yang melahirkan karakter.
Petani yang menjaga pengetahuan.
Blender yang menciptakan harmoni.
Manufaktur yang menjaga kualitas.
Brand yang membangun identitas.
Hospitality yang menciptakan pengalaman.
Dan pasar dunia yang menunggu sebuah cerita.
Dari jendela perjalanan pulang, Prof. Dapatabi kembali melihat hamparan tanah Jember.
Kali ini ia melihatnya dengan cara berbeda.
Bukan sekadar perkebunan.
Melainkan awal dari sebuah rantai panjang:
TANAH → PETANI → DAUN → BLENDER → CERUTU → HOSPITALITY → PASAR DUNIA
Prof. Dapatabi menutup buku catatannya.
Lalu tersenyum.
“Teknologi boleh membawa kita menuju masa depan, tetapi masa depan yang kuat selalu tahu dari tanah mana ia berasal.”
-Prof. Dapatabi Gamanahu-
Perjalanan ke Jember selesai.
Tetapi rasa ingin tahunya belum.
Karena setelah memahami dari mana cerutu berasal, muncul pertanyaan berikutnya:
Bagaimana selembar daun itu diolah, diracik, dan diwariskan hingga akhirnya menjadi sebuah mahakarya?
Dan pertanyaan itulah yang akan membawa Prof. Dapatabi menuju perjalanan berikutnya.
Wismilak
CigarComic.com — Special Episode #1
PROF. DAPATABI GOES TO JEMBER
Menyesap Cerita dari Kota Cerutu
Dari Daun Menjadi Mahakarya
Perjalanan Prof. Dapatabi belum selesai.
Setelah menyusuri Jember dan menemukan bahwa sebatang cerutu sesungguhnya bermula jauh sebelum api menyentuh ujungnya - dari tanah, iklim, petani, dan selembar daun. Kali ini langkahnya membawanya menuju Kota Surabaya.
Tujuannya adalah sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan panjang industri Indonesia:
Wismilak.
Di balik bangunan bersejarah itu, Prof. Dapatabi ingin mencari jawaban atas pertanyaan berikutnya:
Bagaimana selembar daun berubah menjadi sebuah mahakarya?
Kunjungan dimulai dari Grha Wismilak.
Bagi Prof. Dapatabi, sebuah bangunan tua bukan hanya kumpulan dinding, pintu, dan jendela. Di dalamnya tersimpan jejak manusia, keputusan, kegagalan, keberanian, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Perjalanan Wismilak sejak 1962 membuatnya menyadari satu hal:
Sebuah merek besar tidak dibangun dalam semalam.
Ia dibentuk oleh waktu.
Dari museum sejarah, Prof. Dapatabi kemudian bergerak lebih jauh.
Menuju tempat di mana sejarah itu masih terus dibuat.
Di dalam proses produksi, ia kembali bertemu dengan sesuatu yang telah dikenalnya di Jember:
daun tembakau.
Namun kali ini daun itu telah memasuki perjalanan berikutnya.
Daun dipilih.
Diperiksa.
Difermentasi.
Disimpan.
Diperlakukan dengan ketelitian.
Kemudian berpindah ke tangan-tangan terampil yang telah mengulang gerakan yang sama selama bertahun-tahun.
Prof. Dapatabi memperhatikannya.
Tidak ada gerakan yang terburu-buru.
Karena dalam dunia cerutu, kecepatan bukan selalu ukuran produktivitas.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting:
presisi.
Di meja produksi, Prof. Dapatabi melihat bagaimana sebuah cerutu hand-rolled dibentuk.
Daun demi daun disusun.
Filler membentuk jiwa dan kompleksitas rasa.
Binder mengikat dan menjaga konstruksinya.
Wrapper menjadi kulit terluar yang menyempurnakan aroma, karakter, dan penampilan.
Kemudian semuanya bertemu di tangan seorang roller.
Di sinilah Prof. Dapatabi menemukan paradoks yang menarik.
Di tengah dunia yang semakin terotomatisasi, produk premium justru dapat memperoleh nilainya dari sesuatu yang sangat manusiawi:
sentuhan tangan.
“Teknologi dapat meningkatkan presisi.
Tetapi pengalaman, intuisi, dan rasa masih membutuhkan manusia.”
-Catatan Dapatabi-
Perjalanan kemudian membawanya semakin dalam menuju dunia rasa.
Prof. Dapatabi bertemu Soegeng Pangestu, master blender yang perjalanan panjangnya memperlihatkan bahwa blending bukan sekadar mencampurkan beberapa jenis tembakau.
Blending adalah tentang keseimbangan.
Tentang memahami karakter setiap daun.
Tentang mengetahui kapan satu karakter harus muncul dan kapan ia harus memberi ruang kepada karakter lainnya.
Prof. Dapatabi tersenyum.
Ia menemukan istilah yang menurutnya paling tepat.
Arsitek rasa.
Seorang arsitek tidak menciptakan batu, kayu, atau baja.
Ia menyusunnya menjadi ruang.
Demikian pula seorang blender.
Ia tidak menciptakan daun.
Ia menyusun karakter menjadi pengalaman.
Eksplorasi berlanjut pada wrapper dengan karakter berbeda.
Java Besuki Na-Oogst.
Connecticut.
Corojo.
Prof. Dapatabi memperhatikan bagaimana perbedaan varietas dan karakter daun dapat mengubah keseluruhan pengalaman sebuah cerutu.
Ia kembali membuka buku kecilnya.
CATATAN DAPATABI
Cerutu mengajarkan sesuatu yang sederhana:
berbeda tidak selalu berarti bertentangan.
Dalam komposisi yang tepat, perbedaan justru menciptakan harmoni.
Perjalanan panjang dari museum, daun, fermentasi, produksi hingga blending akhirnya berujung di sebuah tempat yang jauh lebih tenang.
Cigar lounge.
Prof. Dapatabi duduk.
Sebuah cerutu berada di tangannya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak banyak bertanya.
Tidak mencatat.
Tidak menganalisis.
Ia hanya menikmati.
Karena akhirnya ia memahami bahwa perjalanan sebuah cerutu memang panjang.
Dari tanah.
Ke daun.
Dari daun ke tangan manusia.
Dari tangan manusia menjadi produk.
Dan dari produk...
menjadi pengalaman.
Prof. Dapatabi meninggalkan Wismilak dengan satu pemahaman baru.
Indonesia tidak kekurangan bahan baku.
Kita memiliki tanah.
Kita memiliki tembakau.
Kita memiliki tradisi.
Kita memiliki manusia dengan keterampilan yang diwariskan selama bertahun-tahun.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi produk, pengalaman, cerita, dan identitas yang mampu berbicara kepada dunia.
Ia menutup Catatan Dapatabi.
Kemudian menatap kembali bangunan yang baru saja dikunjunginya.
“Dari tangan manusia yang mencintai proses, lahirlah cita rasa yang melintasi waktu dan batas.”
-Prof. Dapatabi-
Dan perjalanan pun berlanjut.
Karena bagi Prof. Dapatabi, setiap cerutu selalu menyimpan satu pertanyaan berikutnya.
Dari tanah Indonesia, cerita apa lagi yang akan kita bawa kepada dunia?
CigarComic.com — Special Episode #2
PROF. DAPATABI GOES TO WISMILAK
Dari Daun Menjadi Mahakarya
Dari Nusantara, Menuju Dunia
Artikel pendamping Cigar Comic — Special Episode #4
Ada satu pertanyaan yang menjadi pusat perjalanan Prof. Dapatabi dalam Special Episode #4: di mana sebenarnya posisi cerutu Indonesia di dunia?
Pertanyaan itu menjadi menarik karena Indonesia sesungguhnya bukan pemain baru dalam lanskap tembakau internasional. Dunia telah lama bersentuhan dengan daun tembakau Indonesia. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah kekuatan sebagai origin of tobacco menjadi pengakuan yang lebih kuat terhadap Indonesian Cigar sebagai produk, identitas, pengalaman, dan kategori asal.
Data perdagangan bahkan menunjukkan bahwa fondasinya jauh lebih besar daripada yang mungkin dibayangkan.
Indonesia Sudah Ada di Peta Dunia
Menurut data perdagangan internasional WITS/UN Comtrade, pada 2024 Indonesia mengekspor produk HS 240210—cigars, cheroots and cigarillos containing tobacco—senilai sekitar US$62,62 juta, dengan volume sekitar 2,35 juta kilogram. Pasar terbesarnya adalah Jerman sekitar US$26,05 juta, Jepang US$19,15 juta, Belgia US$8,49 juta, Amerika Serikat US$5,38 juta, dan Belanda US$1,73 juta. (World Integrated Trade Solution)
Angka tersebut penting karena mengubah pertanyaannya.
Bukan lagi:
“Apakah Indonesia mampu mengekspor cerutu?”
Indonesia sudah melakukannya.
Pertanyaan strategisnya menjadi:
“Seberapa kuat identitas Indonesia ikut terbawa bersama produk yang diekspor?”
Bahkan dalam data perdagangan dunia HS 240210 tahun 2024, nilai ekspor Indonesia tercatat cukup signifikan dibanding banyak negara eksportir lainnya. Namun data HS perlu dibaca hati-hati: kategori tersebut menggabungkan cigar, cheroot, dan cigarillo, sehingga tidak identik dengan segmen handmade premium cigar saja. (World Integrated Trade Solution)
Ini membedakan market presence dengan premium-origin recognition.
Kekuatan pertama Indonesia berada pada hulunya.
Pada 2024, ekspor Indonesia untuk kategori tembakau yang sebagian atau seluruh batang daunnya telah dipisahkan (partly or wholly stemmed/stripped tobacco, HS 240120) mencapai sekitar US$123,27 juta dengan volume 14,8 juta kilogram. Tujuannya antara lain Singapura, Belgia, Jerman, Sri Lanka, bahkan Republik Dominika—salah satu negara yang sangat identik dengan industri cerutu dunia. (World Integrated Trade Solution)
Pada Juni 2026, PTPN I juga menyatakan memperkuat produksi tembakau premium untuk pasar cerutu global. Dua komoditas yang disebut adalah Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBN) dan Tembakau Deli, yang diposisikan sebagai bahan premium untuk industri cerutu internasional. (ANTARA News)
Artinya, gagasan dalam komik bahwa:
“Dunia dapat mengenal daun kita tanpa benar-benar mengenal cerutu kita”
bukan sekadar perangkat dramatik.
Ia menggambarkan sebuah persoalan value chain: Indonesia telah memiliki legitimasi sebagai sumber bahan, tetapi pengakuan terhadap bahan baku tidak otomatis menghasilkan pengakuan yang sama kuat terhadap finished product, brand, experience, dan origin identity.
Di sinilah peluang terbesar berada.
Satu daun dapat mempunyai perjalanan ekonomi yang panjang:
SOIL → LEAF → FERMENTATION → AGING → BLENDING → ROLLING → BRAND → DISTRIBUTION → EXPERIENCE → STORY
Setiap tahap menambahkan bentuk nilai yang berbeda.
Petani menciptakan kualitas bahan. Pengolahan dan fermentasi mengembangkan potensinya. Blender menciptakan profil. Roller menerjemahkannya menjadi produk. Desainer menciptakan presentasi. Brand membangun identitas. Distributor membuka akses. Lounge dan hospitality menciptakan pengalaman. Media dan kreator memperpanjang ceritanya.
Karena itu, strategi peningkatan nilai tidak perlu dipahami sebagai meninggalkan ekspor daun.
Indonesia tetap dapat menjadi pemasok daun premium dunia sekaligus memperbesar kapasitasnya sebagai pencipta produk bernilai tambah.
Industri sendiri menunjukkan tanda ke arah tersebut. Tobacco Asia, misalnya, pada 2025 menggambarkan adanya kebangkitan kembali segmen premium cigar Indonesia, dengan produsen yang berusaha membawa identitas Indonesia dari kekuatan historis pada daun menuju produk jadi dan ruang humidor internasional. (Tobacco Asia)
Di rak cerutu internasional, nama negara dapat berfungsi seperti sebuah mental shortcut.
Cuba membawa asosiasi tertentu. Nicaragua memiliki identitasnya. Dominican Republic memiliki reputasinya. Honduras mempunyai sejarah dan tradisinya sendiri.
Konsumen yang memahami kategori tersebut sering kali tidak hanya membeli sebuah brand. Mereka juga memahami origin.
Indonesia membutuhkan proses yang sama—tetapi bukan dengan meniru mereka.
Itulah mengapa pertanyaan:
“Bisakah Indonesia menjadi Kuba berikutnya?”
sebenarnya kurang tepat.
Dunia sudah memiliki Kuba.
Tantangan Indonesia adalah membuat kata:
memiliki makna tersendiri ketika ditempatkan pada sebuah humidor internasional.
Dengan kata lain:
Quality creates credibility.
Identity creates recognition.
Namun apa yang dimaksud dengan “Indonesian Cigar”?
Kita perlu berhati-hati untuk tidak menciptakan definisi yang terlalu sederhana. Indonesia adalah kepulauan besar dengan variasi terroir, tradisi, produsen, blend, dan pendekatan craftsmanship.
Karena itu, identitas Indonesia tidak harus berarti satu rasa nasional.
Kerangka yang lebih relevan adalah enam elemen:
TERROIR — keragaman tanah, iklim, varietas dan lingkungan tumbuh.
HERITAGE — sejarah panjang budidaya, perdagangan dan pengetahuan tembakau.
CRAFT — fermentasi, aging, blending dan rolling.
DIVERSITY — berbagai daerah dan interpretasi produk.
HOSPITALITY — pengalaman menikmati produk dalam konteks tempat, perjalanan dan interaksi manusia.
STORY — kemampuan menjelaskan seluruh nilai tersebut kepada dunia.
Maka:
Ini bukan sebuah flavor profile.
Ini adalah identity framework.
Di sinilah Bali mempunyai posisi menarik.
Tidak semua pengenalan produk Indonesia kepada pasar internasional harus dimulai dengan mengirim produk ke luar negeri.
Sebagian pasar internasional sudah datang ke Indonesia.
Bali memiliki kombinasi wisatawan internasional, hotel dan resort, restoran, lifestyle venues, kreator, komunitas, serta kemampuan menghasilkan pengalaman hospitality. Dalam kerangka industri cerutu, itu memberikan kemungkinan Bali berfungsi sebagai showcase dan gateway, sementara daerah produksi tetap menjadi sumber origin dan craftsmanship.
Modelnya dapat dibaca sebagai:
JEMBER / PRODUCING REGIONS → BALI EXPERIENCE → INTERNATIONAL VISITOR → GLOBAL STORY
Bukan berarti Bali menggantikan daerah penghasil.
Justru masing-masing memainkan fungsi berbeda.
Origin berada di tanah.
Craft berada pada manusianya.
Gateway berada pada jaringan dan pengalaman.
Namun storytelling saja tidak akan membawa sebuah kategori menjadi global.
Pasar tembakau adalah pasar yang sangat diregulasi.
Uni Eropa mengatur manufaktur, presentasi, penjualan, pelaporan produk, health warnings, serta berbagai aspek tobacco products melalui Tobacco Products Directive. Sejak 20 Mei 2024, sistem track and trace Uni Eropa juga diperluas sehingga mencakup seluruh produk tembakau, bukan hanya rokok dan roll-your-own tobacco. (Public Health)
Amerika Serikat mempunyai lapisan regulasi berbeda. FDA mengawasi impor produk tembakau dan memeriksa antara lain kepatuhan terhadap persyaratan yang berlaku terkait market authorization, labeling dan informasi impor. Regulasi cigar di AS sendiri mempunyai perkembangan hukum yang cukup kompleks, termasuk perlakuan terhadap kategori premium cigar. (U.S. Food and Drug Administration)
Artinya, Indonesian Cigar Goes Global tidak bisa hanya berarti:
buat produk → cari buyer → kirim.
Arsitektur yang dibutuhkan lebih menyerupai:
PRODUCT → COMPLIANCE → IMPORTER → DISTRIBUTOR → RETAIL/HOSPITALITY → COMMUNITY → CONSUMER
Karena itu mitra lokal di negara tujuan menjadi sangat penting.
Ini mungkin gagasan paling penting dari keseluruhan Special Episode #4.
Bayangkan lima brand cerutu Indonesia berhasil masuk pasar internasional.
Jika konsumen hanya mengingat lima nama brand tersebut tetapi tidak menghubungkannya dengan Indonesia, maka kita berhasil membangun beberapa perusahaan.
Tetapi bayangkan situasi berbeda.
Seorang konsumen masuk ke humidor dan bertanya:
“Where are the Indonesian cigars?”
Baru setelah itu ia memilih brand.
Pada titik itulah sesuatu yang lebih besar telah tercipta:
Untuk mencapainya, produsen tidak perlu menyeragamkan produknya.
Brand tetap dapat bersaing dalam blend, kualitas, desain, inovasi, harga, dan pelayanan.
Tetapi terdapat wilayah di mana kolaborasi justru menguntungkan semuanya: edukasi tentang origin, promosi heritage, market intelligence, akses distributor, event internasional, hospitality, dokumentasi sejarah, dan storytelling mengenai Indonesian cigar culture.
COLLABORATE ON CATEGORY.**
Atau dalam bahasa The Private Table:
Jika seluruh perjalanan CigarComic sejauh ini disusun sebagai sebuah kerangka industri, kita mendapatkan empat tahap.
ORIGIN
Indonesia mempunyai tanah, terroir dan tembakau.
↓
CRAFT
Pengetahuan mengubah daun menjadi produk dengan karakter.
↓
CONNECTION
Produsen, distributor, hospitality, komunitas, media dan pasar harus saling terhubung.
↓
RECOGNITION
Dunia akhirnya memahami “Indonesia” sebagai sebuah origin.
Dengan demikian, target akhirnya bukan sekadar jumlah kontainer.
Bukan pula sekadar jumlah brand.
Target jangka panjangnya adalah menciptakan meaning around origin.
Data perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia tidak sedang memulai perjalanan ini dari nol. Pada 2024 saja, nilai ekspor kategori cigar/cheroot/cigarillo Indonesia mencapai sekitar US$62,6 juta, sementara ekspor kategori tembakau stemmed/stripped mencapai sekitar US$123,3 juta. Produk Indonesia sudah bergerak melalui jaringan perdagangan internasional. (World Integrated Trade Solution)
Yang perlu diperbesar sekarang adalah nilai, identitas, dan recognition yang mengikuti perjalanan tersebut.
Indonesia tidak perlu menjadi Kuba berikutnya.
Tidak perlu menjadi Nikaragua berikutnya.
Tidak perlu menjadi siapa pun berikutnya.
ORIGIN → CRAFT → CONNECTION → RECOGNITION
From Indonesia, with Character.
Artikel ini membahas cerutu sebagai produk pertanian, craftsmanship, industri, perdagangan, budaya dan ekonomi kreatif. Produk tembakau mengandung risiko kesehatan dan tunduk pada regulasi serta pembatasan usia yang berbeda di setiap negara. Untuk strategi ekspor aktual, regulasi negara tujuan harus diverifikasi per produk dan pasar; misalnya FDA mengatur impor cigar di Amerika Serikat, sementara Uni Eropa memiliki kerangka Tobacco Products Directive dan sistem traceability tersendiri. (U.S. Food and Drug Administration)
Data perdagangan utama dapat ditelusuri melalui WITS/UN Comtrade — ekspor cigar Indonesia 2024 dan WITS/UN Comtrade — ekspor processed tobacco Indonesia 2024. Untuk konteks industri, lihat ANTARA — produksi tembakau premium Besuki dan Deli serta Tobacco Asia — perkembangan premium cigar Indonesia. Untuk regulasi pasar, rujukan primer tersedia melalui European Commission — Tobacco Product Regulation, European Commission — Tobacco Traceability System, dan FDA — Importing Tobacco Products.
Membaca Ekosistem Cerutu Indonesia dari Tanah, Craftsmanship, Manusia hingga Pasar Dunia
Artikel pendamping Cigar Comic — Special Episode #5
“Saya kira saya sedang membuat peta cerutu Indonesia. Ternyata saya sedang menggambar sebuah ekosistem.” — Prof. Dapatabi
Setelah perjalanan Indonesian Cigar Goes Global, Prof. Dapatabi membawa pulang satu pertanyaan yang justru lebih mendasar.
Jika kita ingin dunia memahami Indonesian Cigar, seberapa baik kita sendiri memahami ekosistem yang membentuknya?
Di mana daunnya tumbuh?
Di mana pengetahuan tentang tembakau diwariskan?
Siapa yang melakukan fermentasi, blending dan rolling?
Di mana cerutu diproduksi?
Di kota mana ia bertemu konsumen?
Bagaimana komunitas, hospitality dan kreator ikut membentuk pengalaman?
Dan akhirnya: bagaimana semuanya terhubung dengan pasar dunia?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang melahirkan:
Bukan sekadar peta geografis.
Tetapi sebuah upaya membaca:
TERROIR → CRAFT → MAKERS → EXPERIENCE → PEOPLE → MARKET
Indonesia merupakan negara penghasil tembakau yang besar. Tetapi tidak semua wilayah penghasil tembakau otomatis merupakan cigar tobacco origin.
Ini perbedaan yang sangat penting.
Tembakau Indonesia digunakan untuk berbagai kebutuhan: kretek, rokok putih, tembakau rajangan, tembakau kunyah, ekspor daun, serta cerutu.
Karena itu, jika seluruh sentra tembakau nasional langsung diberi label sebagai “terroir cerutu”, petanya akan menyesatkan.
Literatur Kementerian Pertanian secara eksplisit mengidentifikasi tiga wilayah agroekologi spesifik untuk bahan baku cerutu:
Dokumen tersebut bahkan memisahkan ketiganya dari Virginia dan tembakau rakyat yang mempunyai kegunaan berbeda. (repository.pertanian.go.id)
Penelitian IPB mengenai Besuki Na-Oogst juga mencatat tiga pusat historis pengusahaan tembakau cerutu Indonesia: Deli di Sumatera Utara, Vorstenlanden di kawasan Surakarta–Yogyakarta, dan Besuki di Jember–Bondowoso. (repository.ipb.ac.id)
Maka lapisan pertama Indonesian Cigar Map bukan:
“Di mana tembakau Indonesia ditanam?”
melainkan:
“Di mana sejarah, agroekologi dan rantai nilai tembakau cerutu Indonesia terbentuk?”
Ketiganya tidak perlu diperlakukan sebagai pesaing.
Justru perbedaan fungsi, sejarah dan karakter mereka memperlihatkan sesuatu yang sangat Indonesia:
Deli di Sumatera Utara merupakan salah satu nama paling bersejarah dalam tembakau Indonesia.
Tembakau Deli berkembang sejak abad ke-19 dan memperoleh reputasi internasional terutama karena karakter daunnya yang cocok sebagai material pembungkus cerutu. Sumber kontemporer Deli Nusantara Tobacco—bagian dari PTPN I Regional 1—masih menempatkan Deli sebagai warisan agrikultur Sumatera Utara dan secara spesifik memosisikan daunnya untuk kebutuhan cigar wrapper. (delitobacco.co.id)
Yang menarik, Deli kini tidak hanya hidup sebagai cerita masa lalu.
Deli Nusantara Tobacco telah mengembangkan finished cigars seperti Helvetia Series I, Helvetia Series II, Helvetia Premium dan Saentis. Beberapa menggunakan Deli Sumatra sebagai wrapper dan binder, dengan filler Indonesia atau kombinasi Deli dan tembakau Nusantara. (delitobacco.co.id)
Dengan demikian, Deli memperlihatkan sebuah transformasi:
HISTORIC LEAF ORIGIN → CONTEMPORARY CIGAR PRODUCT
Itulah hilirisasi dalam bentuk paling mudah dipahami.
Pusat kedua berada di Jawa Tengah.
Vorstenlanden mempunyai hubungan historis dengan kawasan Surakarta–Yogyakarta, dengan Klaten sebagai salah satu pusat penting budidayanya.
Literatur mengenai keragaman tembakau Indonesia mencatat bahwa penanaman Vorstenlanden di Klaten diperkenalkan pada 1858 dan mulai diekspor ke Eropa pada 1863. (researchgate.net)
Dalam konteks cerutu, Vorstenlanden mempunyai kegunaan pada lapisan cigar—terutama wrapper/binder dalam berbagai sumber teknis dan historis—dan keberadaannya masih terlihat dalam rantai produk kontemporer. (repository.pertanian.go.id)
Contoh menarik datang dari Deli Nusantara Tobacco: Helvetia Series II mencantumkan VBN Tobacco sebagai wrapper, Deli Sumatra sebagai binder, dan Indonesian tobacco sebagai filler. (delitobacco.co.id)
Artinya, peta kita mulai menunjukkan sesuatu yang tidak terlihat bila hanya menggambar batas provinsi.
Daun dari satu origin dapat bertemu daun dari origin lain di meja blender.
Peta cerutu sebenarnya adalah network.
Jika Deli membawa sejarah wrapper dan Klaten membawa warisan Vorstenlanden, Jember memberikan contoh paling mudah untuk memahami sebuah cigar cluster.
Besuki Na-Oogst merupakan tembakau cerutu yang secara historis berpusat di wilayah Jember–Bondowoso. Penelitian mengenai kesesuaian lahannya menyebut karakter agroekologi di sekitar pegunungan Yang dan Gunung Raung sebagai bagian dari kondisi yang memungkinkan produksi daun untuk wrapper, binder maupun filler. (repository.ipb.ac.id)
Tetapi Jember menarik bukan hanya karena daun.
Di sana terdapat beberapa lapisan sekaligus:
FARMING
→ CURING
→ FERMENTATION
→ PROCESSING
→ CIGAR MANUFACTURING
→ BRAND
→ EVENT
→ BUYER
→ TOURISM
Inilah sebabnya Jember layak dibaca sebagai ecosystem node, bukan sekadar titik pertanian.
JKCI Festival 2026 memperlihatkan dimensi tersebut dengan cukup jelas. Acara 31 Juli–1 Agustus 2026 menghadirkan pelaku industri, buyer dan delegasi dari 11 negara, sekaligus membawa peserta melihat rantai produksi dari perkebunan dan pengolahan hingga pembuatan cerutu. (mataram.antaranews.com)
Maka:
Dalam bahasa wine, kopi ataupun tembakau, kata terroir sering disederhanakan menjadi tanah.
Padahal untuk membaca tembakau, kerangka yang lebih berguna adalah:
SOIL
CLIMATE
CULTIVAR
AGRICULTURAL PRACTICE
HARVEST TIMING
CURING
= LEAF CHARACTER**
Bahkan daun dari varietas yang sama tidak otomatis menghasilkan karakter identik ketika ditanam di agroekologi berbeda.
Karena itu The Indonesian Cigar Map tidak akan mencoba menciptakan satu “rasa Indonesia”.
Justru hipotesis editorialnya adalah:
Keberagaman bukan masalah yang harus diseragamkan.
Keberagaman adalah aset yang perlu didokumentasikan.
Setelah daun dipanen, geografis mulai bertemu pengetahuan manusia.
Rantai sederhananya:
↓
↓
↓
↓
↓
↓
↓
↓
Di sinilah konsep craftsmanship menjadi penting.
Sebagai contoh, Besuki Raya Cigar menjelaskan bahwa tembakaunya melalui fermentasi yang dapat berlangsung hingga delapan bulan, kemudian diseleksi berdasarkan grade, di-aging—banyak daun yang digunakan setidaknya berumur tiga tahun—kemudian cigar dibuat dengan tangan dan menjalani masa resting sebelum dikirim. (besukirayacigar.co.id)
Contoh ini menunjukkan mengapa nilai tambah tidak muncul hanya karena daun berubah bentuk menjadi cerutu.
Nilai muncul dari:
Atau seperti Catatan Dapatabi:
TERROIR IS NATURE.
CRAFT IS HUMAN.
CIGAR IS WHERE THEY MEET.
Peta berikutnya adalah makers.
Dan di sinilah kita harus berhati-hati.
The Indonesian Cigar Map bukan katalog sponsor dan bukan ranking “cerutu terbaik Indonesia”.
Maker yang masuk peta harus dapat ditempatkan berdasarkan keberadaan dan aktivitas yang dapat diverifikasi.
Beberapa contoh node yang sudah mempunyai jejak dokumentasi antara lain:
Deli Nusantara Tobacco — Deli Serdang
Menghubungkan kembali Deli tobacco dengan produksi finished cigar kontemporer. (delitobacco.co.id)
Besuki Raya Cigar — Jember
Berasal dari divisi cigar PT Mangli Djaya Raya sebelum berdiri independen sebagai PT Besuki Raya Cigar pada 2020. (besukirayacigar.co.id)
Taru Martani — Yogyakarta
Mempunyai sejarah sejak 1918. Taru Martani menyebut sumber tembakaunya antara lain Besuki/Jember, Kediri, Sumatra dan Klaten serta mendokumentasikan sejarah ekspor cerutunya ke berbagai negara. (cigarindonesia.id)
Jember sendiri juga mempunyai jaringan produsen dan processor lain yang terus perlu kita dokumentasikan.
Yang penting bukan membuat satu brand menjadi representasi seluruh Indonesia.
Justru:
Karena tidak ada alasan sebuah cerutu Deli harus mempunyai ekspresi yang sama dengan Jember.
Tidak ada alasan maker Yogyakarta harus mempunyai pendekatan sama dengan maker Jawa Timur.
Kategori menjadi lebih menarik justru ketika terdapat banyak interpretasi.
Cerutu tidak berhenti ketika meninggalkan pabrik.
Setelah produksi, ia memasuki lapisan yang sama pentingnya:
RETAIL • LOUNGE • HOTEL • RESORT • RESTAURANT • PRIVATE TABLE • EVENT • TOURISM
Mengapa ini masuk ke peta industri?
Karena di tempat-tempat tersebut produk bertemu manusia.
Dan ketika produk bertemu manusia, lahirlah:
Jakarta misalnya mempunyai Club Macanudo di kawasan Bumi Pakubuwono, Jakarta Selatan, yang beroperasi sebagai premium cigar lounge. (clubmacanudo.com)
Sementara Bali menawarkan logika berbeda.
Pada Juli 2026, Bali Cigar House membuka toko fisik pertamanya di Sanur Bay dengan konsep curated cigar selection, personal recommendations dan lounge-style experience, serta secara eksplisit menyasar penduduk lokal maupun pengunjung internasional. (balicigarhouse.com)
Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Bali adalah “pusat cerutu Indonesia”.
Itu terlalu jauh.
Tetapi kita dapat mengajukan posisi yang lebih presisi:
Bali tidak harus menghasilkan daun untuk memainkan peran penting dalam ekosistem.
Justru kekuatannya berada pada:
HOSPITALITY + INTERNATIONAL VISITORS + EXPERIENCE + STORY
Bayangkan seorang wisatawan dari Jepang datang ke Bali.
Ia menemukan cerutu Indonesia di sebuah lounge.
Ia bertanya tentang asal daunnya.
Seseorang menceritakan Jember.
Ia kemudian mengetahui Besuki Na-Oogst.
Ia membawa pulang cerutu—atau sekadar membawa pulang cerita tentangnya.
Jalur ekonominya mungkin:
MAKER → DISTRIBUTOR → LOUNGE → CONSUMER
Tetapi jalur reputasinya:
Karena itu:
“Produk bergerak melalui distribusi. Reputasi bergerak melalui manusia.”
Inilah alasan hospitality harus muncul dalam peta.
Ketika seluruh nama kota dihapus dari peta, sesuatu yang menarik terjadi.
Yang tersisa adalah manusia.
FARMER
→ PROCESSOR
→ BLENDER
→ ROLLER
→ MAKER
→ RETAILER
→ HOSPITALITY
→ COMMUNITY
→ CREATOR
→ DISTRIBUTOR
Tidak ada satu aktor yang dapat menciptakan ekosistem sendirian.
Petani dapat menghasilkan daun luar biasa, tetapi membutuhkan processor.
Processor membutuhkan buyer.
Maker membutuhkan bahan, craftsmanship dan akses pasar.
Retail membutuhkan produk.
Hospitality membutuhkan experience.
Komunitas membutuhkan ruang.
Media membutuhkan cerita yang layak didokumentasikan.
Pasar membutuhkan akses.
Karena itu:
Bukan sekadar kumpulan perusahaan.
Sekarang kita dapat meletakkan data perdagangan di atas peta tersebut.
Menurut WITS/UN Comtrade, pada 2024 Indonesia mengekspor produk HS 240210—cigars, cheroots and cigarillos containing tobacco—senilai sekitar:
dengan volume sekitar:
Lima tujuan terbesar yang dilaporkan adalah Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat dan Belanda. (wits.worldbank.org)
Tujuan
Nilai ekspor 2024
Jerman
US$26,05 juta
Jepang
US$19,15 juta
Belgia
US$8,49 juta
Amerika Serikat
US$5,38 juta
Belanda
US$1,73 juta
Kelima pasar tersebut menyerap sekitar 97% nilai ekspor HS 240210 Indonesia pada tahun itu.
Tetapi ada catatan metodologis yang sangat penting:
Kategori tersebut menggabungkan cigar, cheroot dan cigarillo containing tobacco.
Karena itu CigarComic tidak akan mengubah angka US$62,62 juta menjadi klaim:
“Ekspor premium cigar Indonesia US$62,62 juta.”
Data tidak mengatakan itu.
Yang dapat kita katakan adalah:
Indonesia sudah mempunyai kehadiran ekspor yang signifikan pada kategori perdagangan yang mencakup cigar, cheroot dan cigarillo.
Perbedaan kecil dalam kalimat, tetapi sangat besar dalam integritas data.
Lapisan perdagangan menjadi semakin menarik ketika kita melihat raw/semi-processed tobacco.
Pada 2024, Indonesia mengekspor HS 240120—tobacco, partly or wholly stemmed/stripped—senilai:
dengan volume:
Pasar utamanya mencakup:
Singapura — US$43,70 juta
Belgia — US$26,68 juta
Jerman — US$17,18 juta
Sri Lanka — US$6,05 juta
Republik Dominika — US$3,97 juta. (wits.worldbank.org)
Ada temuan tambahan yang sangat menarik.
Untuk HS 240110—tobacco, not stemmed/stripped—Indonesia juga mengekspor sekitar US$93,34 juta pada 2024. Di antara tujuan besarnya terdapat Republik Dominika sekitar US$11,89 juta dan Nicaragua sekitar US$11,81 juta. (wits.worldbank.org)
Kedua negara tersebut mempunyai industri cerutu internasional yang sangat dikenal.
Kita tetap tidak boleh menyimpulkan bahwa seluruh daun tersebut digunakan untuk cerutu, karena kode HS tersebut tidak memberi informasi penggunaan akhirnya.
Tetapi datanya cukup untuk menunjukkan sesuatu yang lebih luas:
Dari seluruh data tadi, Indonesian Cigar Map akhirnya mempunyai dua jalur.
LEAF → PROCESSING → CIGAR → DISTRIBUTION → MARKET
Ini jalur barang.
Tetapi ada jalur kedua.
ORIGIN → CRAFT → EXPERIENCE → STORY → RECOGNITION
Ini jalur makna.
Keduanya harus berjalan bersamaan.
Jika hanya jalur pertama yang kuat, Indonesia dapat menjadi pemasok atau produsen yang besar tetapi tidak selalu memiliki origin recognition yang sebanding.
Jika keduanya kuat, nama Indonesia mulai mempunyai arti di pasar.
Ada satu dimensi yang sering luput dari pembicaraan ekspor.
Pasar tidak hanya bergerak:
INDONESIA → WORLD
Ia juga bergerak:
Data 2024 menunjukkan Indonesia juga mengimpor kategori HS 240210 dari berbagai negara, termasuk Jerman, Swiss, Kuba, Republik Dominika dan Honduras. (wits.worldbank.org)
Sementara itu wisatawan, pebisnis dan komunitas internasional datang langsung ke Indonesia.
Maka kita mempunyai jalur lain:
WORLD
↓
INDONESIA / BALI
↓
EXPERIENCE
↓
INDONESIAN CIGAR STORY
↓
WORLD
Ini menjelaskan mengapa tourism dan hospitality relevan terhadap strategi kategori.
Pasar internasional tidak selalu harus ditemukan di luar negeri.
Sebagian dunia sudah datang kepada kita.
Sekarang semua layer dapat ditumpuk.
Tanah, iklim, varietas, petani.
↓
Curing, fermentation, sorting, aging, blending, rolling.
↓
Processor, manufacturer, artisan, brand.
↓
Retail, lounge, hospitality, event, tourism.
↓
Farmer, roller, entrepreneur, community, creator, consumer.
↓
Domestic distribution, export, international retail, global recognition.
Barulah terlihat bahwa peta cerutu Indonesia sebenarnya bukan sekadar kumpulan titik.
Ia adalah jaringan.
Ini kesimpulan terpenting Special Episode #5.
Peta yang kita buat hari ini pasti belum lengkap.
Dan itu bukan kegagalan.
Justru itulah alasan proyek ini perlu ada.
CigarComic akan memperlakukan The Indonesian Cigar Map sebagai living map—peta yang berkembang ketika data baru ditemukan dan diverifikasi.
Metodenya:
Menemukan pelaku, tempat dan cerita.
↓
Mencatat profil, lokasi, proses dan hubungan.
↓
Menguji informasi dengan sumber primer, data pemerintah, akademik atau bukti industri yang memadai.
↓
Menempatkannya dalam struktur ekosistem.
↓
Menunjukkan bagaimana satu node berhubungan dengan node lainnya.
↓
Memperbarui peta ketika industri berubah.
Ada prinsip editorial yang perlu dikunci sejak awal.
Masuk ke The Indonesian Cigar Map tidak boleh berarti membeli sponsorship CigarComic.
Begitu pembayaran menentukan siapa yang masuk peta, kredibilitas proyek akan hilang.
Produsen besar boleh masuk.
Produsen kecil boleh masuk.
Brand baru boleh masuk.
Lounge independen boleh masuk.
Komunitas boleh masuk.
Petani bahkan harus masuk.
Syaratnya bukan ukuran perusahaan.
Syaratnya adalah:
Jika suatu entitas bekerja sama secara komersial dengan CigarComic, hubungan tersebut harus dapat dibedakan dengan jelas dari keputusan editorial pemetaan.
Map the ecosystem, not the advertisers.
Setiap node nantinya dapat menggunakan tiga status sederhana:
VERIFIED
Informasi utama mempunyai sumber primer, pemerintah, akademik atau dokumentasi perusahaan yang dapat diperiksa.
DEVELOPING
Keberadaan node dapat dibuktikan tetapi detailnya masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
RESEARCH NEEDED
Ada indikasi relevansi tetapi belum cukup kuat untuk dipublikasikan sebagai fakta.
Sistem seperti ini juga memungkinkan kita memperbaiki peta.
Karena peta yang dapat dikoreksi lebih bernilai daripada peta yang berpura-pura sempurna.
Versi digital nantinya idealnya mempunyai enam filter utama:
Deli • Vorstenlanden/Klaten • Besuki/Jember • dan origin lain setelah terverifikasi.
Curing • fermentation • aging • sorting • blending • rolling.
Grower • processor • manufacturer • artisan • brand.
Retail • lounge • hotel/resort • restaurant • event • cigar tourism.
Farmer • blender • roller • entrepreneur • community • creator.
Distributor • domestic market • export gateway • international destination.
Dengan demikian seseorang tidak sekadar membuka peta dan melihat:
“Ada cigar brand di Jember.”
Ia dapat melihat:
Jember → Besuki Na-Oogst → farmer → processor → maker → event → buyer → export market.
Itulah bedanya database alamat dengan ecosystem map.
Misalnya Sumba.
Ada indikasi penggunaan tembakau dari Tambolaka/Sumba dalam sejumlah blend cerutu Indonesia. Tetapi bukti yang tersedia saat ini belum cukup bagi CigarComic untuk menempatkan Sumba sejajar dengan Deli, Vorstenlanden dan Besuki sebagai historic cigar tobacco origin.
Maka Sumba tidak perlu dihapus dari penelitian.
Tetapi statusnya harus jujur:
Begitu pula daerah lain.
Ini jauh lebih sehat daripada mengisi peta berdasarkan kebanggaan daerah atau asumsi.
Karena industri yang tidak terdokumentasi akan sulit menjelaskan dirinya sendiri.
Tanpa peta, kita melihat:
petani sendiri-sendiri.
Produsen sendiri-sendiri.
Brand sendiri-sendiri.
Lounge sendiri-sendiri.
Komunitas sendiri-sendiri.
Event sendiri-sendiri.
Tetapi ketika semuanya ditempatkan dalam satu sistem, kita mulai melihat kategori.
Dan kategori memberikan sesuatu yang tidak bisa dibangun satu brand sendirian:
Context menjelaskan mengapa Deli penting.
Mengapa Jember penting.
Mengapa Klaten penting.
Mengapa craftsmanship penting.
Mengapa Jakarta relevan sebagai market node.
Mengapa Bali dapat berfungsi sebagai experience gateway.
Mengapa komunitas dan media dibutuhkan.
Dan mengapa ekspor tidak hanya tentang memindahkan kotak dari Indonesia ke negara lain.
Sekarang perjalanan Prof. Dapatabi mempunyai struktur yang jauh lebih jelas.
THE ORIGIN
Kita menemukan tanah.
↓
WISMILAK
Kita melihat bagaimana pengetahuan mengubah daun menjadi produk.
↓
THE CONNECTION
Kita menemukan meja tempat manusia bertemu.
↓
THE RECOGNITION
Kita bertanya bagaimana Indonesia dikenal dunia.
↓
Kita kembali ke Nusantara dan akhirnya melihat bahwa semuanya merupakan bagian dari sistem yang sama.
Dan di situlah pertanyaan awal Prof. Dapatabi mendapat jawabannya.
“Saya tidak sedang mencari satu kota cerutu.”
“Saya sedang mencari sebuah Nusantara cerutu.”
Peta ini tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang terbaik.
Tidak menentukan daerah mana yang paling penting.
Tidak menentukan brand mana yang paling Indonesia.
Ia mencoba melakukan sesuatu yang lebih sederhana—tetapi mungkin jauh lebih berguna:
Karena sebelum kita meminta dunia memahami Indonesian Cigar, kita perlu membangun pemahaman yang lebih baik mengenai ekosistemnya sendiri.
THE INDONESIAN CIGAR MAP
A living research & editorial project by CigarComic.com.
Data perdagangan dalam artikel ini menggunakan klasifikasi HS dan harus dibaca sesuai cakupannya. HS 240210 mencakup cigar, cheroot dan cigarillo yang mengandung tembakau; HS 240120 mencakup tobacco partly or wholly stemmed/stripped; HS 240110 mencakup tobacco not stemmed/stripped. Karena klasifikasi tersebut tidak selalu menunjukkan apakah produk merupakan premium handmade cigar atau penggunaan akhir suatu daun, CigarComic tidak akan membuat inferensi yang melampaui data perdagangan. (wits.worldbank.org)
Pemetaan juga akan membedakan historic cigar terroir, sentra tembakau umum, manufacturing node, experience node dan market node. Dengan demikian sebuah kota dapat relevan bagi ekosistem tanpa harus menjadi daerah penghasil daun.
Artikel dan proyek ini membahas tembakau dan cerutu dalam konteks pertanian, sejarah, craftsmanship, ekonomi, perdagangan, hospitality dan budaya. Produk tembakau mengandung risiko kesehatan dan tunduk pada ketentuan usia serta regulasi yang berlaku.
Untuk fondasi tiga origin historis, rujukan penting adalah kajian Kementerian Pertanian mengenai tembakau bahan baku cerutu—Deli, Besuki Na-Oogst dan Vorstenlanden—serta penelitian IPB mengenai pusat historis Deli, Vorstenlanden dan Besuki/Jember. (repository.pertanian.go.id)
Untuk maker dan rantai craft, dokumentasi primer tersedia dari Besuki Raya Cigar, Deli Nusantara Tobacco dan Taru Martani 1918. Untuk experience nodes, terdapat dokumentasi dari Bali Cigar House — Sanur Bay dan Club Macanudo Jakarta.
Data perdagangan berasal dari WITS/UN Comtrade: HS 240210 — ekspor cigar, cheroot dan cigarillo Indonesia 2024, HS 240120 — ekspor stemmed/stripped tobacco Indonesia 2024, serta HS 240110 — ekspor unstemmed tobacco Indonesia 2024. Dokumentasi kontemporer mengenai JKCI 2026 dan keterlibatan delegasi dari 11 negara tersedia melalui ANTARA. (mataram.antaranews.com)
Cerutu Wismilak Premium merupakan lini cerutu premium buatan tangan (100% handmade) asal Indonesia yang diproduksi oleh PT Wismilak Inti Makmur Tbk. Diluncurkan pertama kali pada tahun 2000 dengan varian pertama Robusto, cerutu ini dibuat untuk menyasar para penikmat cerutu kelas atas dengan memadukan warisan tembakau nusantara dan internasional.
Komposisi dan Karakteristik Rasa
Cerutu premium Wismilak terkenal dengan perpaduan tembakau (blend) lintas negara yang diracik secara ahli:
Wrapper (Pembungkus): Menggunakan daun tembakau berkualitas tinggi seperti Connecticut Shade yang terkenal halus atau Ecuadorian Corojo yang kaya rasa.
Binder (Pengikat): Menggunakan daun tembakau Jawa yang eksotis untuk memberikan kekuatan struktur dan aroma khas.
Filler (Isian): Kombinasi racikan long filler (daun tembakau utuh) dari Jawa, Nikaragua, hingga Brasil.
Profil Rasa: Karakteristik hisapannya cenderung light to medium strength. Rasa yang dihasilkan sangat halus (smooth) dengan dominasi rasa creamy chocolate, kopi panggang (dark roast), kacang-kacangan (nutty), serta sentuhan herba dan rempah yang lembut.
Varian Populer
Wismilak mengemas cerutunya dalam berbagai pilihan, mulai dari batangan tunggal menggunakan kotak kertas, tabung kaca (glass tube), hingga kotak kayu eksklusif (wooden box). Beberapa varian populer yang beredar di pasaran meliputi:
Wismilak Premium Robusto: Varian orisinal dan paling ikonik (Ukuran: Length 5 inci, Ring Gauge 50).
Wismilak Premium Seleccion Series: Hadir dalam ukuran Robusto, Corona, dan Petit Corona. Menggunakan wrapper yang berbeda untuk rasa yang lebih bold.
Wismilak Clasico Reserva (Limited Edition): Seri premium terbatas yang menyajikan karakter rasa lebih intens dan kompleks.
Maumere Cigar (Cerutu Maumere), salah satu varian cerutu premium produksi BIN Cigar (PT Boss Image Nusantara) yang berbasis di Jember, Jawa Timur.
Spesifikasi Utama
Jenis / Varian: Maumere Half Corona atau Clove Corona.
Dimensi Ukuran: Diameter ring (Ring Gauge) bernilai 44 (17,5 mm) dengan panjang sekitar 5 inci (127 mm).
Bahan Tembakau: Sepenuhnya menggunakan varietas tembakau Havana (Kuba) yang telah diaklimatisasi di Indonesia, baik untuk pembungkus (wrapper), pengikat (binder), maupun isian (filler).
Profil Rasa (Taste): Karakter rasa cenderung ringan-sedang (mild-medium body) dengan perpaduan nuansa tanah vulkanis (earthy), rempah-rempah (spicy), serta sentuhan creamy.
Waktu Bakar: Berlangsung sekitar 25 hingga 30 menit per batang.
Cerutu ini umumnya dikemas secara eksklusif menggunakan kotak kayu (wooden box) isi 10 batang atau kemasan kertas (paper pack) isi 5 batang
Cerutu Boslucks Series adalah salah satu lini cerutu premium dari BIN Cigar yang diproduksi di Jember, Jawa Timur, dengan karakteristik cita rasa kaya karena menggunakan tembakau benih Kuba (Havana seed). Lini cerutu ini menawarkan pengalaman mengisap tembakau berkualitas tinggi berjenis long filler (isian daun tembakau utuh) yang digulung menggunakan tangan (hand-rolled).
Karakteristik & Varian Utama
Boslucks Series memiliki beberapa varian populer yang disesuaikan dengan preferensi ukuran dan profil kekuatan rasa para penikmat cerutu:
Boslucks Maduro: Varian premium dengan wrapper dan binder tembakau Havana, serta filler tembakau Havana Maduro yang telah difermentasi minimal selama 5 tahun. Varian ini menggunakan perpaduan daun Seco dan Ligero yang memberikan aroma sedalam kopi, berkarakter full-bodied, berdiameter ring 52, dengan sentuhan aftertaste manis.
Boslucks Robusto: Memiliki bentuk Parejo klasik dengan diameter ring 50. Seluruh bagian cerutu ini menggunakan tembakau Havana long filler yang dirancang untuk durasi isap sekitar setengah jam dengan profil rasa yang kaya dan padat.
Boslucks Corona: Varian ukuran standar dengan diameter ring 48 dan panjang 138 mm. Memiliki tingkat kekuatan sedang (medium-bodied) dengan dominasi rasa tanah (earthy) dan rempah (spicy) yang pas dinikmati selama sekitar 27 menit.
Boslucks Escuro 44: Varian lain dari lini Boslucks yang dikemas dalam kotak kayu eksklusif untuk menjaga kelembapan cerutu secara optimal.
Cerutu El Gaucho adalah salah satu lini cerutu premium yang sangat populer dan mendapat pengakuan luas di kalangan penikmat cerutu (aficionados) di Indonesia. Dirilis pertama kali pada tahun 2022, cerutu ini diproduksi oleh PT Besuki Raya Cigar (BRC), produsen cerutu modern yang berbasis di episentrum tembakau Indonesia, Jember, Jawa Timur.
Nama "El Gaucho" sendiri diambil dari istilah koboi tradisional di kawasan Amerika Selatan (seperti Argentina dan Brasil), yang melambangkan warisan kultur, ketangguhan, dan tradisi tembakau yang kuat.
Berikut adalah cerita dan keunikan mendalam mengenai cerutu El Gaucho:
1. Pelopor Bentuk Kotak (Box-Pressed) Pertama di Indonesia
Salah satu fakta paling unik dari El Gaucho adalah statusnya sebagai cerutu pertama di Indonesia yang mengadopsi bentuk kotak (box-pressed). Alih-alih bulat sempurna seperti cerutu konvensional, struktur El Gaucho ditekan sedemikian rupa hingga membentuk sudut persegi. Secara fungsional, bentuk ini membuat airflow (aliran udara hasil hisapan) menjadi jauh lebih baik, sehingga cerutu terasa lebih adem saat dihisap meskipun ukurannya pendek.
2. Racikan Tembakau Multinasional (Blended Tobacco)
Meskipun diproduksi di Indonesia, racikan daun tembakau (blend) El Gaucho merupakan perpaduan lintas negara yang dikurasi secara ketat:
Wrapper (Kulit Luar): Menggunakan daun premium dari Ekuador (Ecuadorian Habano) yang memberikan tampilan mulus dan aroma dominan.
Binder (Pengikat): Menggunakan tembakau jenis Arapiraca dari Brasil yang memberikan kekuatan struktur.
Filler (Isian): Kombinasi kompleks dari tembakau Republik Dominika, Kuba, serta sentuhan tembakau lokal Indonesia.
3. Dua Varian Utama dengan Karakter Berbeda
El Gaucho hadir dalam dua lini utama yang dapat dikenali langsung dari warna kemasannya:
El Gaucho Premium (Kemasan Merah):
Memiliki profil rasa yang cenderung berat dan penuh (Full Body). Sangat cocok bagi penikmat cerutu berpengalaman. Saat dihisap, Anda akan merasakan evolusi rasa yang berlapis-lapis mulai dari cokelat manis, kacang panggang, kayu ek (oak wood), sedikit bumbu kayu manis (cinnamon), hingga diakhiri dengan rasa kopi hitam pekat yang gurih (creamy).
El Gaucho Fantastico (Kemasan Biru):
Hadir dengan profil kekuatan menengah (Medium Body) yang lebih ramah di langit-langit mulut. Karakter rasanya cenderung lebih segar dan unik berkat kombinasi rasa mentega (buttery), cokelat, aroma jeruk (citrus), jahe (ginger), unsur floral, hingga rasa kopi espresso di sepertiga akhir hisapan.
4. Proses Pembuatan yang Lambat (Slow Drying)
Kualitas premium El Gaucho didapatkan dari proses pembuatan yang tidak boleh terburu-buru. Setelah melalui proses stripping (pemisahan tulang daun tembakau secara manual dengan tangan), lembaran tembakau dikeringkan menggunakan teknik slow drying di dalam ruangan bersuhu khusus selama minimal 3 hari. Teknik ini menjaga agar minyak alami tembakau tidak menguap, sehingga menghasilkan aroma yang sangat wangi dan konsistensi rasa yang terjaga dari awal hingga akhir.
5. Pilihan Ukuran (Vitola) yang Fleksibel
El Gaucho dijual dalam berbagai ukuran sesuai dengan durasi merokok yang diinginkan:
Edmundo / Toro: Ukuran besar (Ring Gauge 54) untuk durasi santai yang lama sekitar 90 hingga 100 menit.
Chiquitos: Ukuran cerutu kecil (cigarillos) yang biasanya dijual dalam kemasan kotak kaleng (tin box) isi 6 batang. Cocok untuk sesi merokok singkat sekitar 15–30 menit di sela-sela kesibukan.
Karena kompleksitas rasa dan kemasannya yang mewah, cerutu El Gaucho sering dijadikan hadiah premium maupun pelengkap momen bersantai yang berkelas bagi para penikmat tembakau.
Java Sunrise Cigar adalah lini cerutu premium asal Indonesia yang diproduksi oleh Besuki Raya Cigar di daerah Jember, Jawa Timur. Cerutu premium all-Indonesian puro ini dibuat secara handmade menggunakan 100% tembakau Nusantara berkualitas tinggi yang ditanam langsung di tanah vulkanik Jawa yang subur.
Karakteristik dan Profil Rasa
Cerutu ini dikenal memiliki tarikan yang lancar (smooth draw) dan pembakaran yang merata. Kombinasi tanah vulkanik dan jenis daun tembakau lokal memberikan keunikan tersendiri pada profil aromanya:
Tingkat Kekuatan: Mild to Medium-bodied (ringan hingga sedang), sangat ramah untuk pemula maupun penikmat cerutu berpengalaman.
Profil Rasa: Perpaduan kaya rasa yang menghasilkan sensasi kacang (nutty), cokelat hitam (dark chocolate), kayu manis (cinnamon), madu, keharuman bunga (floral), sedikit rasa kopi, hingga sentuhan manis alami tembakau Jawa di akhir hisapan (hint of sweetness).
Pilihan Ukuran (Format)
Lini produk Java Sunrise hadir dalam beberapa format ukuran populer yang dikemas secara eksklusif dalam kotak kayu (wooden box), di antaranya:
Robusto (Ring Gauge 50, Panjang 125mm) – Menggunakan daun pembungkus (wrapper) Vorstenlanden serta pengikat (binder) Besuki untuk durasi merokok sekitar 45-60 menit.
Petit Corona (Ring Gauge 46, Panjang 4 inci) – Menampilkan daun tembakau lokal Javano (bibit Habano yang dibudidayakan secara lokal).
Petit Panatela (Ring Gauge 36, Panjang 4 3/16 inci) – Ukuran yang lebih ramping dan waktu hisap yang lebih singkat.
Akar Nusantara merupakan salah satu lini cerutu premium asli Indonesia yang dirancang untuk para penikmat cerutu (connoisseur). Cerutu ini mengangkat cita rasa tradisional dengan memanfaatkan kekayaan tembakau Nusantara yang berkualitas tinggi.
Berikut adalah beberapa poin menarik mengenai cerutu Akar Nusantara:
Varian dan Ukuran: Salah satu varian populernya hadir dalam ukuran Premium Robusto Cigar.
Profil Tembakau: Cerutu ini menggunakan racikan racikan lokal (Indonesian blend), dengan pengikat daun Javano binder serta dibungkus menggunakan Indonesian wrapper pilihan. Tembakau yang digunakan salah satunya memanfaatkan keunikan aroma daun tembakau Besuki Na-Oogst yang telah matang sempurna.
Catatan Rasa (Tasting Notes): Karakter rasanya cenderung gurih dan beraroma (creamy & aromatic) dengan sentuhan rasa dominan kacang-kacangan (nutty), cokelat hitam (dark chocolate), elemen bumi (earthy notes), serta sensasi manis alami yang sederhana.
Pengalaman Menikmati: Karena memiliki profil rasa tradisional yang khas dan kaya, cerutu ini sangat cocok dinikmati secara perlahan untuk bersantai atau saat menikmati waktu luang (me time). Produk ini juga dinilai memiliki potensi penuaan (aging potential) yang baik jika disimpan di dalam humidor.
Cerutu Esperitu adalah sebuah merek cerutu premium asal Bali, Indonesia, yang diproduksi oleh PT Cita Rasa Perkasa Nusantara sejak tahun 2022. Merek ini dikenal luas karena berhasil membawa cita rasa khas Kuba (Cuban taste) ke dalam produk buatan asli Indonesia.
Berikut adalah profil dan karakteristik utama dari Cerutu Esperitu:
Asal-Usul dan Bahan Baku:
Biji Tembakau Kuba: Keunikan utama Esperitu terletak pada penggunaan 100% puro dari bibit tembakau Havana (Kuba).
Kondisi Tanah Lokal: Bibit tersebut ditanam dan dibudidayakan di daerah dataran Jawa Timur (khususnya wilayah Jember). Wilayah ini dipilih karena kondisi iklim dan kesuburan tanah vulkanis hitamnya dinilai sangat mirip dengan wilayah perkebunan tembakau di Kuba.
Tanpa Campuran (Puro): Cerutu ini diproduksi tanpa proses blending dengan jenis tembakau luar lainnya, sehingga murni menonjolkan karakter rasa dari hasil tanah tempatnya tumbuh.
Profil Rasa (Taste Profile)
Kekuatan (Strength): Secara umum bertipe Medium hingga Medium-to-Full. Karakternya halus (smooth) saat dihisap namun tetap menghasilkan rasa yang kaya dan tebal tanpa sensasi pahit berlebih.
Catatan Rasa (Notes): Dominan rasa khas Kuba dengan sentuhan aroma bumi (earthy), kulit, serta sedikit wangi jeruk (citrusy/orange peel) yang mulai terasa pada bagian 2/3 hisapan cerutu.
Jajaran Produk (Varian Ukuran)
Esperitu memproduksi cerutunya secara handcrafted (lintingan tangan) dan menyediakan lima varian ukuran utama untuk menyesuaikan durasi hisap para penikmatnya:
Petit Robusto: Ukuran lebih ringkas untuk durasi santai yang singkat.
Robusto: Menggunakan Ring Gauge 52 dengan panjang 125 mm. Ini menjadi salah satu varian paling populer untuk santai.
Gordito: Ukuran lebih tebal dengan Ring Gauge 64 dan panjang 110 mm.
Torpedo: Menampilkan ujung kerucut yang khas.
Maestro: Varian dengan ukuran paling panjang dalam lini premium Esperitu Cigars.
Iconica: Varian terbaru Esperitu Cigars, menggunakan bibit tembakau Kuba (Havana seeds) yang ditanam dan dibudidayakan di tanah subur Indonesia (Jawa Timur), menghasilkan cita rasa otentik khas cerutu Kuba dengan sentuhan lokal. Dikemas dalam kotak hitam eksklusif bermotif ukiran barong berwarna emas khas Bali, yang mencerminkan identitas budaya lokal tempat Esperitu berasal.
Sakera Piramides adalah salah satu varian cerutu premium paling megah dan ikonis yang diproduksi oleh PT Boss Image Nusantara (BIN Cigar), sebuah produsen cerutu terkemuka asal Jember, Jawa Timur.
Nama "Sakera" sendiri diambil dari tokoh pejuang legendaris asal Madura yang terkenal akan keberanian, kedalaman karakter, dan ketangguhannya. Filosofi inilah yang dituangkan ke dalam racikan cerutu untuk memberikan pengalaman dengan karakter kuat dan berani.
Berikut adalah profil lengkap mengenai cerutu Sakera Piramides:
Spesifikasi Fisik & Bentuk (Vitola)
Bentuk (Cigar Shape): Piramide, yaitu bentuk cerutu unik yang meruncing di bagian ujung hisap (head) dan melebar di bagian pangkal (foot). Bentuk ini menuntut keahlian melinting yang sangat tinggi (handmade).
Ukuran: Memiliki ketebalan Ring Gauge 54 (diameter sekitar 21,4 mm) dengan panjang 6,2 inci (160 mm).
Kemasan: Umumnya dijual dalam bentuk satuan menggunakan Aluminium Tube (Tubos) protektif bermotif khas ilustrasi pejuang Sakera, serta tersedia dalam kemasan isi 3 (paperpack) maupun kemasan kotak kayu (wooden/gift box) isi 10.
Komposisi Tembakau (100% Havana)
Keunikan utama dari cerutu racikan BIN Cigar ini adalah penggunaan 100% varietas tembakau Kuba (Havana) untuk seluruh bagian cerutu (Wrapper, Binder, dan Filler). Benih tembakau asal Kuba tersebut telah diaklimatisasi dan ditanam di tanah vulkanis Jember selama puluhan tahun, menghasilkan cita rasa otentik khas Kuba (Cuban Taste) namun dengan karakter unik tanah Indonesia.
Profil Rasa & Karakter Asap
Kekuatan (Strength): Berada di skala 7/9 (Medium to Full Bodied), menjadikannya sangat cocok untuk penikmat cerutu yang menyukai rasa intens dan mantap.
Catatan Rasa (Flavor Notes): Saat pertama kali dibakar hingga hisapan berkembang, cerutu ini menyajikan perpaduan rasa mineral dan rempah-rempah (spices) di atas inti rasa kayu yang melimpah. Karena bentuknya yang meruncing, kompleksitas rasa dan tarikan asap (draw) akan berevolusi menjadi semakin padat dan melimpah di setiap sepertiga bagian cerutu.
Waktu Nikmati (Consumption Time): Cerutu long filler ini dirancang untuk pembakaran yang lambat dan menghasilkan asap tebal, dengan durasi santai sekitar 50 hingga 60 menit.
Cerutu Gran Cigarro adalah salah satu varian cerutu premium yang diproduksi oleh BIN Cigar (PT Boss Image Nusantara), produsen cerutu legendaris yang berbasis di Jember, Jawa Timur.
Jember sendiri sudah lama mendunia sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di dunia dengan iklim dan tanah yang sangat ideal mirip dengan perkebunan tembakau kolonial.
Karakteristik Utama Gran Cigarro
Cita Rasa Kuba (Cuban Taste): BIN Cigar menggunakan benih tembakau orisinal Kuba yang dibudidayakan di tanah Jember. Ditunjang oleh teknik pengolahan yang matang, cerutu ini menghasilkan aroma khas tanah alami (earthy) dan rempah-rempah yang berkarakter kuat.
Kekuatan Sedang (Medium Strength): Tingkat kekuatan (strength level) cerutu ini berada di skala menengah (5/9), menjadikannya pilihan yang sangat ideal untuk dinikmati sehari-hari (keseharian) baik oleh perokok cerutu berpengalaman maupun pemula.
Isian Panjang (Long Filler): Dibangun menggunakan metode gulung tangan (handmade) menggunakan helaian daun tembakau utuh pilihan (long filler Havana tobacco) mulai dari pembungkus (wrapper), pengikat (binder), hingga isiannya.
Kemasan Unik Nasionalis
Cerutu ini populer dikemas secara satuan di dalam tabung pelindung ramping berwarna kombinasi Merah-Putih. Desain kemasan ikonik ini sengaja dipilih oleh BIN Cigar sebagai perwujudan jiwa nasionalis sekaligus penanda kuat di pasar internasional bahwa produk cerutu berkualitas tinggi ini murni buatan Indonesia. Tabung ini juga menjaga kelembapan cerutu agar tetap segar dan siap dinikmati kapan saja tanpa wajib masuk ke dalam wadah humidor khusus.
Dos Hermanos (berarti "Dua Saudara" dalam bahasa Spanyol) adalah merek cerutu premium Indonesia yang diproduksi dan didistribusikan di bawah naungan PT Djarum.
Berikut adalah detail menarik mengenai Dos Hermanos yang mencakup produk cerutu hingga kafe hits-nya:
Karakteristik Cerutu Dos Hermanos
Kualitas Premium: Menggunakan metode buatan tangan (hand-made) dengan jenis daun tembakau utuh (long filler).
Karakter Rasa: Menawarkan tarikan medium to full dengan profil rasa dominan pedas, manis, dan hangat, serta menghasilkan asap yang tebal.
Varian Populer: Beberapa varian yang diminati di pasar antara lain Robusto, Torito, Corona, hingga seri Royal Collection.
Pilihan Cerutu Harian: Karena kualitasnya yang bersaing namun harganya relatif terjangkau, cerutu lokal ini sering direkomendasikan oleh para penikmat cerutu sebagai cerutu harian (daily smoke).
Dos Hermanos Coffee & Cigar
Merek ini juga melebarkan sayapnya ke dunia lifestyle dengan membuka tempat nongkrong populer bernama Dos Hermanos Coffee & Cigar.
Santorini Jakarta: Kafe ini sempat viral karena mengusung konsep arsitektur putih-biru khas Santorini, Yunani.
Misi Sosial: Saat awal dibuka pada masa pandemi (Oktober 2020), tempat ini berfokus mempekerjakan karyawan yang terkena dampak PHK.
Gaya Hidup Mewah: Tempat ini memadukan pengalaman minum kopi, bersantai, dan menikmati cerutu premium, bahkan ikut serta dalam pameran gaya hidup bergengsi seperti Whisky Live Jakarta.
El Bomba adalah salah satu varian cerutu premium yang diproduksi oleh BIN Cigar (PT Boss Image Nusantara), sebuah produsen cerutu Indonesia ternama yang berbasis di Jember, Jawa Timur. Cerutu ini dikenal unik karena bentuk fisiknya yang pendek namun sangat tebal.
Berikut adalah detail lengkap mengenai cerutu El Bomba:
Spesifikasi Fisik & Karakteristik
Vitola (Bentuk): Petit Gordo. Bentuk ini dicirikan oleh ukurannya yang pendek tetapi memiliki diameter yang besar.
Ukuran: Memiliki panjang 100 mm (4 inci) dengan Ring Gauge bernilai 60 (diameter sekitar 2,38 cm).
Kekuatan (Body): Medium. Memberikan keseimbangan rasa yang pas, tidak terlalu ringan namun tidak terlalu kuat, sehingga cocok dinikmati oleh perokok cerutu berpengalaman maupun yang masih beralih dari tingkat mild.
Metode Pembuatan: Handmade (digulung manual dengan tangan) oleh para pengrajin terampil di Jember.
Bahan Baku Tembakau
Seperti koleksi cerutu premium BIN Cigar lainnya, El Bomba dibuat menggunakan benih tembakau asal Kuba (Havana Cuban Seed) yang dibudidayakan di tanah Jember. Perpaduan benih Kuba dan unsur hara tanah Jember ini menghasilkan cita rasa klasik khas cerutu Kuba dengan sentuhan aroma Nusantara yang kaya dan melimpah.
Sultan Cigar Indonesia adalah salah satu merek cerutu premium Indonesia yang dimiliki oleh Ferry (Frederico Kedang). Merek ini diproduksi melalui kemitraan strategis dengan Sejahtera Cerutu Indonesia yang berbasis di Kebumen, Jawa Tengah. Menghadirkan cita rasa tembakau Nusantara yang kaya, Sultan Cigar juga aktif berkolaborasi dengan komunitas penikmat cerutu serta perkebunan tembakau legendaris untuk menjaga kualitas produknya.
Ciri Khas dan Produksi
Tembakau Pilihan: Menggunakan racikan daun tembakau premium (long filler) asli Indonesia.
Kemitraan Strategis: Diproduksi secara presisi di pabrik Sejahtera Cerutu Indonesia di Kebumen.
Ekspansi Mutu: Terlibat dalam proyek pengolahan tembakau legendaris seperti kerja sama pemanfaatan lahan Tembakau Deli di Sumatra Utara.
Varian Populer
Sultan Vintage Series: Seri populer seperti Vintage Robusto dan Vintage Edmundo yang menawarkan cita rasa klasik matang.
Sultan Damara: Varian dengan kemasan eksklusif yang menonjolkan warisan budaya cerutu.
Sultan Black Label: Menawarkan profil rasa yang lebih intens untuk penikmat cerutu berpengalaman.
Sultan ICC (Indonesian Cigar Club): Produk kolaborasi edisi khusus bersama komunitas cerutu nasional.
Sultan Syndicate Na-Oogst: Memanfaatkan keunikan daun tembakau jenis Na-Oogst yang kaya aroma.
Cerita tentang Uno a Jefe adalah kisah mengenai ambisi, dedikasi, dan jembatan kebudayaan yang mempertemukan tradisi tembakau legendaris dunia dengan kekayaan tanah Indonesia. Lahir dari visi sang pemilik merek, Jeff Martin, cerutu ini diciptakan bukan sekadar sebagai produk tembakau, melainkan sebagai sebuah mahakarya premium yang memadukan keahlian tangan (craftsmanship) para pelinting lokal dari Jember, Jawa Timur dengan cita rasa tembakau internasional.
Nama Uno a Jefe sendiri membawa makna mendalam: sebuah perjalanan dari titik awal (Uno) menuju figur pemimpin sejati (Jefe). Ini adalah sebuah penghormatan bagi mereka yang mengapresiasi kerja keras, pencapaian hidup, dan momen-momen intim yang sengaja diberi jeda di tengah kesibukan dunia.
Kisah setiap batang Uno a Jefe dimulai dari bentangan lahan subur di Jember, sebuah wilayah di Jawa Indonesia yang telah mendunia berkat reputasi kualitas tembakaunya. Di sinilah lini Uno a Jefe Premium pertama kali diracik.
Seri reguler pertamanya mengusung bentuk klasik Parejo dengan ukuran ring gauge 54 dan panjang 137 mm. Cerutu ini dibungkus oleh kehangatan daun wrapper dan binder berjenis Havana, yang mengunci filler Colorado pilihan. Ketika dibakar, seri premium ini memberikan transisi rasa yang kaya namun konsisten—memadukan karakter creamy, nutty (kacang), dan woody (kayu alami) dengan waktu hisap yang santai berkisar antara 1,5 hingga 2 jam. Cerutu ini dengan cepat memikat hati para aficionado (pencinta cerutu) di Indonesia.
Menghidupkan Sejarah Lewat "Majapahit Series"
Tidak berhenti di lini reguler, Uno a Jefe melakukan eksplorasi kultural yang lebih berani melalui peluncuran Uno a Jefe Premium Majapahit Series.
Seri ini dirilis sebagai bentuk penghormatan terhadap kemegahan sejarah nusantara. Dibungkus secara eksklusif menggunakan daun Javano Maduro yang telah melalui proses penuaan panjang (aged), seri Majapahit menawarkan petualangan rasa yang lebih pekat, berkarakter tanah, sedikit pedas (peppery), namun tetap membawa aroma kacang yang anggun. Dikemas dalam kotak kayu eksklusif berisi 10 batang dan diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas, seri ini menjelma menjadi buruan para kolektor yang menghargai nilai sejarah di setiap hembusan asapnya.
Lompatan Global di "Edición Limitada 2025"
Puncak dari evolusi rasa Uno a Jefe mewujud pada rilis kolaborasi monumental mereka: Uno a Jefe Edición Limitada 2025.
Dirilis bersamaan untuk merayakan satu tahun perjalanan lounge cerutu ternama Lahbakoe SCBD Jakarta, edisi terbatas 2025 ini menjadi bukti kematangan racikan mereka. Berbeda dengan seri-seri sebelumnya, edisi ini melintasi batas geografis dengan mengawinkan tiga benua tembakau dalam satu kepulan:
Kelembutan dan aroma floral dari wrapper Connecticut Amerika.
Kekayaan rasa tanah yang pekat dari binder San Andrés Meksiko.
Keunikan eksotis dari daun filler Indonesia yang legendaris.
Hadir dengan ukuran ring gauge 50 dan pita biru elegan di bagian kaki (foot), cerutu berkarakter medium strength ini meredefinisi cara menikmati cerutu lintas budaya. Rasa lembut creamy yang menyapa di awal hisapan perlahan bertransisi menjadi karakter herbal dan kayu yang kompleks.
Kini, Uno a Jefe bukan sekadar merek cerutu lokal di Indonesia. Melalui berbagai agenda cigar gathering eksklusif, bincang budaya di The Draw Room SCBD, serta distribusi terkurasi di butik-butik cerutu ternama seperti Javan Cigars dan Blibli, Uno a Jefe telah mengukuhkan posisinya.
Ia adalah simbol dari sebuah perayaan waktu—sebuah pengingat bahwa hal-hal terbaik dalam hidup, layaknya cerutu yang baik dan cerita yang hebat, diciptakan untuk dinikmati secara perlahan, satu hisapan demi satu hisapan.
Don Gomez Cigari adalah merek cerutu premium buatan tangan (handmade) asli Indonesia yang mengusung cita rasa internasional dengan sentuhan klasik ala Havana, Kuba.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai profil, cita rasa, dan karakteristik dari Don Gomez Cigari:
Produksi Lokal, Kualitas Global: Cerutu ini diproduksi sepenuhnya di Indonesia secara hand-rolled oleh para pelinting ahli berpengalaman.
Komposisi Tembakau: Menggunakan perpaduan tembakau Havana seed pilihan untuk bagian wrapper (pembungkus), binder (pengikat), dan filler (isian). Kombinasi ini dirancang untuk meniru karakteristik cerutu Kuba yang kaya dan beraroma kuat.
Vitola Populer: Varian yang paling banyak dicari di pasaran adalah ukuran Robusto, yang menawarkan durasi merokok ideal sekitar 45 hingga 60 menit.
Don Gomez Cigari dikenal memiliki profil rasa yang berkembang (kompleks) dari awal hingga akhir pembakaran:
Kekuatan (Strength): Berada di level Medium to Full Body. Cocok untuk penikmat cerutu yang sudah terbiasa maupun yang ingin mencoba sensasi rasa yang lebih tebal.
Catatan Rasa (Tasting Notes): Saat diisap, cerutu ini dominan dengan rasa earthy (tanah), sentuhan rempah-rempah (spice) yang hangat, aroma kayu cedar, serta sedikit jejak rasa manis alami tembakau di bagian akhir (aftertaste).
Desain Kotak: Produk ini terkenal dengan kemasan kotaknya yang sangat elegan berwarna hijau tua (dark green) dengan aksen emas yang mewah.
Proteksi Produk: Di dalam kotak kayu tersebut, cerutu biasanya dikemas secara higienis menggunakan plastik pembungkus individual guna menjaga kelembapan alami (humidity) dan keutuhan aroma tembakau selama distribusi.
Just Cigar (cerutu Indonesia dengan nama resmi PT Just Cigar Indonesia dan merek dagang JC168™)
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kisah, filosofi, dan karakteristik dari Just Cigar:
Filosofi & Visi Merek
Just Cigar mengusung visi untuk menaikkan kelas tembakau Indonesia di mata para penikmat cerutu global. Mereka berfokus pada produksi skala kecil hingga menengah (boutique cigar) untuk memastikan konsistensi kualitas di setiap batang yang mereka rilis, alih-alih mengejar produksi massal dengan mesin.
Proses Produksi & Formulasi Blend
Fermentasi Panjang: Kunci kelembutan rasa Just Cigar terletak pada proses penuaan (aging) dan fermentasi daun tembakau yang memakan waktu cukup lama. Proses alami ini membuang kadar amonia berlebih, sehingga menghasilkan asap yang halus (smooth draw) tanpa rasa getir yang tajam.
Keahlian Tangan (Torcedor): Setiap batang cerutu digulung secara manual menggunakan teknik tradisional. Struktur kepadatan cerutu sangat diperhatikan agar menghasilkan pembakaran yang rata (even burn) dengan abu yang kokoh.
Wrapper Havana-Side: Ciri khas estetika mereka adalah penggunaan daun pembungkus luar (wrapper) bertipe Havana-side, memberikan warna cokelat gelap yang berkilau minyak alami (oily) serta menyumbang rasa gurih yang khas.
Varian Utama & Karakter Rasa
Merek ini membagi koleksinya ke dalam kode angka untuk memudahkan penikmat cerutu memilih profil yang sesuai dengan selera mereka:
Just Cigar 1 (JC1)
Mild to Medium
Tembakau natural, kacang-kacangan (nutty), manis halus
Box isi 5 & 10 batang
Just Cigar 6 (JC6)
Medium
Rempah ringan (spicy), kayu kering (woody), kopi
Box isi 5 & 10 batang
Just Cigar 8 (JC8)
Medium to Full
Cokelat hitam, tanah (earthy), rempah pekat
Kemasan tunggal (single) & Box
Daya Tarik Desain Kotak (Wooden Box)
Presentasi visual menjadi keunggulan tersendiri bagi Just Cigar. Kotak penyimpanannya (humidor box) dirancang menggunakan kayu ringan berkualitas tinggi dengan eksterior hitam doff yang minimalis, lengkap dengan logo daun tembakau bersayap. Kemasan ini dirancang rapat untuk membantu menjaga tingkat kelembapan (humidity) cerutu di dalamnya selama pengiriman atau penyimpanan jangka panjang.
adalah salah satu merek cerutu premium lokal yang diproduksi oleh PT Besuki Raya Cigar (BRC). Cerutu ini dikenal luas di kalangan penikmat tembakau karena menawarkan kualitas tinggi dengan karakter khas tembakau nusantara.
Karakteristik & Bahan Baku
Bahan Pembungkus (Wrapper): Menggunakan daun pembungkus jenis Maduro dan Oscuro asli Indonesia, yang sering disebut sebagai tembakau Javano. Pembungkus ini memberikan warna gelap, tekstur berminyak, serta sentuhan rasa yang kaya.
Racikan (Blend): Mengombinasikan tembakau premium khas Indonesia untuk menciptakan profil rasa yang seimbang, halus, dan berkarakter.
Profil Rasa: Umumnya menawarkan sensasi kekuatan light to medium hingga medium, dengan notes rasa yang cenderung gurih, sedikit manis khas Maduro, dan aroma tembakau tradisional yang dominan.
Varian Ukuran (Vitola)
Rojo Blanco hadir dalam berbagai ukuran untuk menyesuaikan waktu dan preferensi merokok Anda:
Cigarillos: Ukuran terkecil, sangat cocok untuk sesi merokok singkat yang praktis.
Panatella: Memiliki ring gauge ramping (sekitar 30) dan bodi yang memanjang.
Half Corona: Ukuran sedang yang populer untuk menikmati cerutu di sela-sela kesibukan.
Petit Robusto: Ukuran yang lebih tebal namun pendek, memberikan intensitas asap yang padat sejak tarikan pertama.
Cerutu Brawijaya merupakan salah satu lini cerutu premium lokal khas Jember, Jawa Timur. Merek ini diproduksi oleh pabrik cerutu terkemuka asal Jember, yaitu PT Besuki Raya Cigar (BRC).
Berikut adalah beberapa detail menarik mengenai cerutu Brawijaya:
Asal Usul & Nama: Nama "Brawijaya" diambil dari nama raja besar Kerajaan Majapahit. Sesuai dengan namanya yang gagah, kemasan dan cigar band (label kertas pada cerutu) menampilkan siluet logo bernuansa keemasan dengan latar belakang hitam yang elegan.
Karakter & Cita Rasa: Cerutu ini menggunakan racikan daun tembakau lokal pilihan jenis long filler berkualitas tinggi. Karakter utamanya cenderung bertubuh sedang hingga kuat (medium to bold body). Profil rasanya kaya akan sentuhan rempah (spice), lada (pepper), kayu, tanah (earth), serta sedikit jejak cokelat hitam yang dominan dan mantap.
Varian Ukuran (Vitola): Lini Brawijaya hadir dalam beberapa ukuran populer untuk menyesuaikan durasi isapan, mulai dari Cigarillos (kecil), Half Corona, Robusto, hingga Grand Corona (besar).
Jember sendiri memang sudah lama dikenal di dunia internasional sebagai "Kota Tembakau" yang menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi (seperti varietas Besuki Na-Oogst), bahkan kualitas cerutu asal Jember kerap disandingkan dengan cerutu legendaris asal Kuba.
Cerutu Airlangga merupakan salah satu merek cerutu lokal khas Indonesia yang diproduksi oleh PT Besuki Raya Cigar (bekerja sama dengan PT Mangli Djaya Raya / MDR Cigars) yang berbasis di Jember, Jawa Timur. Jember sendiri sudah sangat terkenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di Indonesia bahkan dunia.
Berikut adalah beberapa detail menarik mengenai Cerutu Airlangga:
Asal-Usul Nama: Nama merek ini diambil dari Raja Airlangga, seorang penguasa legendaris Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur pada abad ke-11.
Karakter & Cita Rasa: Cerutu ini dibuat menggunakan tembakau lokal pilihan jenis short filler. Karakter rasanya cenderung mild hingga medium dengan profil rasa (flavor profile) perpaduan antara rempah (spice), lada, cokelat, serta sentuhan earth/kayu panggang yang lembut. Karakteristiknya yang tidak terlalu berat membuat cerutu ini sangat ramah bagi pemula yang baru ingin mencoba cerutu (novice smokers).
Ukuran (Vitola): Lini Airlangga hadir dalam berbagai ukuran untuk menyesuaikan waktu santai Anda, mulai dari ukuran kecil hingga besar: Cigarillos / Mini Cigarillos, Half Corona (Ring Gauge 38, Panjang ~115 mm), Robusto (Ring Gauge 50, Panjang ~124 mm), Grand Corona (Ring Gauge 48-52, Panjang ~150-160 mm).