Pada EC.02 — Wrapper • Binder • Filler, kita membedah tiga kelompok daun yang membentuk sebuah cerutu.
Sekarang muncul pertanyaan:
Mengapa daun tembakau dari satu daerah dapat memiliki karakter berbeda dengan daun dari daerah lainnya?
Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke tempat perjalanan cerutu dimulai.
Bukan di ruang blending.
Bukan di meja penggulungan.
Tetapi di tanah tempat tembakau tumbuh.
Di sinilah kita mengenal sebuah konsep bernama terroir.
Istilah terroir berasal dari bahasa Prancis dan sangat dikenal dalam dunia wine.
Namun konsepnya juga relevan untuk kopi, teh, kakao, dan tentu saja tembakau.
Secara sederhana, terroir dapat dipahami sebagai kombinasi kondisi lingkungan suatu tempat yang ikut membentuk karakter hasil pertanian yang tumbuh di sana.
Terroir bukan hanya tanah.
Ia merupakan interaksi antara:
TANAH • IKLIM • AIR • MATAHARI • KETINGGIAN • LINGKUNGAN
Kemudian semuanya bertemu dengan varietas tanaman serta cara manusia membudidayakan dan mengolahnya.
Karena itu, ketika berbicara mengenai terroir tembakau, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah ekosistem.
Tanaman tembakau mendapatkan air dan unsur hara melalui tanah.
Karakteristik tanah—termasuk struktur, drainase, kandungan bahan organik, dan ketersediaan unsur hara—memengaruhi bagaimana tanaman berkembang.
Tanah berpasir, tanah lempung, tanah vulkanik, atau kombinasi karakter tanah lainnya dapat menghadirkan kondisi pertumbuhan yang berbeda.
Tetapi tidak ada rumus sederhana seperti:
“Tanah A pasti menghasilkan rasa B.”
Karakter akhir daun merupakan hasil interaksi banyak faktor.
Tanah adalah fondasi, bukan satu-satunya penentu.
Tembakau sangat dipengaruhi kondisi selama masa pertumbuhannya.
Suhu, pola hujan, kelembapan, panjang musim, hingga perubahan cuaca dapat memengaruhi perkembangan tanaman.
Bahkan dua musim tanam di lokasi yang sama tidak selalu menghasilkan daun dengan karakter yang persis sama.
Alam tidak bekerja seperti mesin produksi.
Itulah salah satu alasan mengapa hasil pertanian mempunyai variasi.
Jumlah dan intensitas sinar matahari yang diterima tanaman ikut memengaruhi perkembangan daun.
Bahkan dalam satu tanaman, daun pada posisi berbeda dapat menerima paparan matahari yang berbeda.
Inilah salah satu alasan mengapa daun bagian atas, tengah, dan bawah dapat memiliki karakter fisik dan kimia yang berbeda.
Dalam budidaya tertentu, petani juga dapat menggunakan naungan untuk mengatur paparan cahaya dan menghasilkan karakter daun yang diinginkan.
Alam memberi energi.
Manusia belajar mengelolanya.
Air dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.
Tetapi jumlah, distribusi, serta kemampuan tanah mengelola air sama pentingnya.
Terlalu sedikit dapat memberikan tekanan pada tanaman.
Terlalu banyak juga dapat menimbulkan masalah.
Kelembapan udara turut membentuk lingkungan pertumbuhan dan kemudian menjadi faktor penting dalam berbagai tahapan pengolahan tembakau setelah panen.
Karena itu air bukan sekadar kebutuhan tanaman.
Ia merupakan bagian dari keseimbangan terroir.
Ketinggian dan bentuk bentang alam dapat memengaruhi temperatur, pola angin, kelembapan, intensitas cahaya, dan drainase.
Lereng, dataran, lembah, dan kawasan pegunungan dapat menciptakan kondisi mikro yang berbeda meskipun secara geografis relatif berdekatan.
Kondisi lokal seperti ini sering disebut microclimate atau iklim mikro.
Artinya:
dua kebun yang tidak terlalu berjauhan pun dapat memiliki kondisi pertumbuhan yang berbeda.
Terroir tidak bekerja sendirian.
Varietas tembakau tetap memainkan peran penting.
Bayangkan sebuah varietas ditanam di dua wilayah dengan:
tanah berbeda,
curah hujan berbeda,
suhu berbeda,
ketinggian berbeda,
dan praktik budidaya berbeda.
Hasilnya tidak harus identik.
Sebaliknya, dua varietas berbeda yang tumbuh di wilayah yang sama juga tidak otomatis menghasilkan karakter yang sama.
Karena itu kita dapat melihatnya sebagai hubungan:
GENETIKA TANAMAN × TERROIR × BUDIDAYA
yang kemudian menghasilkan karakter daun ketika dipanen.
Terroir sering dibicarakan seolah-olah semuanya merupakan pekerjaan alam.
Padahal manusia mempunyai peran sangat besar.
Petani menentukan varietas.
Petani menentukan waktu tanam.
Petani mengelola air dan tanah.
Petani menentukan kapan daun dipanen.
Setelah panen, manusia kembali mengambil peran melalui:
CURING → FERMENTASI → SORTASI → AGING → BLENDING
Jadi karakter sebuah cerutu bukan hanya cerita tentang alam.
Ia adalah dialog antara alam dan manusia.
Ada satu kesalahpahaman yang perlu kita hindari.
Ketika seseorang mengatakan sebuah cerutu mempunyai karakter earthy, bukan berarti ia sedang “merasakan tanah” tempat tembakau tersebut ditanam.
Earthy adalah deskripsi sensori.
Sedangkan terroir adalah konsep tentang lingkungan pertumbuhan.
Keduanya berbeda.
Terroir dapat memengaruhi karakter bahan baku, tetapi kita tidak dapat menyederhanakannya menjadi:
“tanah tertentu = rasa tertentu.”
Perjalanan dari kebun hingga menjadi cerutu jauh lebih kompleks.
Di sinilah pembicaraan menjadi sangat menarik bagi kita.
Indonesia memiliki bentang alam yang luar biasa beragam.
Ada dataran vulkanik.
Pegunungan.
Lembah.
Dataran rendah tropis.
Wilayah dengan pola hujan dan karakter tanah yang berbeda-beda.
Dalam sejarah tembakau untuk cerutu, nama Indonesia—terutama Sumatra dan Jawa—telah lama hadir dalam perdagangan tembakau internasional.
Deli di Sumatra, misalnya, menjadi salah satu nama historis penting dalam tembakau cerutu.
Jawa pun mempunyai tradisi panjang budidaya dan pengolahan tembakau, termasuk wilayah-wilayah yang menghasilkan tembakau untuk kebutuhan industri cerutu.
Keragaman inilah yang membuka sebuah pertanyaan besar:
Seperti apa identitas terroir cerutu Indonesia?
Pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu perjalanan penting dalam Ensiklopedia Cerutu.
Sekarang perjalanan kita mulai terlihat lebih lengkap:
TANAH + IKLIM + AIR + MATAHARI + KETINGGIAN
↓
VARIETAS & BUDIDAYA
↓
DAUN TEMBAKAU
↓
CURING & FERMENTASI
↓
AGING
↓
BLENDING
↓
WRAPPER • BINDER • FILLER
↓
CERUTU
Cerutu yang kita pegang adalah titik akhir dari perjalanan yang dimulai jauh sebelumnya.
Di sebuah kebun.
Pada selembar daun.
Di bawah matahari.
CATATAN PROF. DAPATABI
“Terroir mengingatkan kita bahwa rasa tidak dimulai ketika cerutu dinyalakan. Perjalanannya telah dimulai jauh sebelumnya—ketika akar pertama kali bertemu tanah.”
Panjang.
Diameter.
Bentuk.
Mengapa cerutu yang menggunakan blend serupa dapat memberikan pengalaman berbeda ketika dibuat dalam ukuran yang berbeda?
Selanjutnya kita akan mengenal vitola—arsitektur bentuk sebuah cerutu.
CigarComic.com
Cerita • Edukasi • Budaya Cerutu Nusantara