Sebelas perjalanan telah kita lalui.
Kita membedah anatomi cerutu.
Mengenal wrapper, binder, dan filler.
Kembali ke tanah melalui terroir.
Memahami vitola.
Masuk ke meja blender.
Mengikuti fermentasi dan aging.
Belajar memotong, menyalakan, menikmati, hingga mempertemukan cerutu dengan kopi.
Sekarang, pada penutup Volume I Ensiklopedia Cerutu, kita pulang.
Karena jauh sebelum istilah craft, premium, dan terroir menjadi bahasa pemasaran modern, Nusantara telah menjadi bagian penting dari perjalanan tembakau cerutu dunia.
Ketika berbicara tentang cerutu, banyak orang langsung membayangkan:
CUBA • DOMINICAN REPUBLIC • NICARAGUA • HONDURAS
Itu wajar.
Negara-negara tersebut memiliki tradisi dan industri cerutu yang sangat dikenal.
Tetapi ada satu nama yang tidak boleh dihilangkan dari sejarah tembakau cerutu:
Tembakau Indonesia telah lama memasuki rantai produksi cerutu internasional, terutama sebagai bahan untuk wrapper dan binder, di samping penggunaan lainnya.
Beberapa nama bahkan menjadi bagian dari kosakata perdagangan tembakau dunia.
DELI
BESUKI
JAWA
Ini bukan sekadar nama tempat.
Mereka membawa sejarah panjang hubungan antara:
tanah • tembakau • manusia • perdagangan • craftsmanship.
Di Sumatra Utara terdapat salah satu nama historis penting dalam dunia tembakau cerutu:
Perkebunan tembakau Deli berkembang secara komersial pada masa kolonial abad ke-19 dan kemudian memperoleh reputasi internasional, khususnya untuk daun yang digunakan sebagai pembungkus cerutu.
Daun wrapper membutuhkan kualitas tertentu.
Ia harus cukup elastis untuk digulung.
Memiliki struktur yang sesuai.
Mampu terbakar dengan baik.
Dan secara visual memenuhi standar yang tinggi.
Karakteristik tembakau Deli membuat nama daerah ini dikenal jauh melampaui Sumatra.
Selembar daun dari Nusantara kemudian dapat menjadi bagian paling luar dari sebuah cerutu yang dibuat dan dinikmati ribuan kilometer dari tempat ia tumbuh.
Itulah salah satu bab penting sejarah tembakau Indonesia.
Bergerak ke Jawa Timur, kita menemukan nama lain:
Kawasan Besuki—terutama wilayah sekitar Jember dan sekitarnya—memiliki tradisi panjang produksi tembakau untuk kebutuhan cerutu.
Salah satu istilah yang dikenal adalah Besuki Na-Oogst, merujuk pada tembakau yang dibudidayakan dalam musim dan sistem produksi tertentu untuk kebutuhan industri cerutu.
Tembakau dari kawasan ini digunakan dalam berbagai fungsi sesuai kualitas dan klasifikasinya, termasuk untuk wrapper dan binder.
Di sini kita kembali menemukan sesuatu yang telah dipelajari sepanjang Ensiklopedia Cerutu:
TERROIR SAJA TIDAK CUKUP.
Tanah memberi kondisi.
Tanaman tumbuh.
Tetapi setelah itu diperlukan manusia yang memahami:
budidaya,
pemanenan,
curing,
fermentasi,
sortasi,
dan
penyimpanan.
Cerutu adalah produk alam yang diselesaikan oleh keterampilan manusia.
“Java” atau “Jawa” juga telah lama dikenal dalam perdagangan tembakau internasional.
Tetapi kita harus berhati-hati ketika menggunakan istilah tersebut.
Jawa bukan satu terroir tunggal.
Pulau ini memiliki bentang alam, tanah, iklim mikro, varietas, dan tradisi produksi yang sangat beragam.
Karena itu:
Begitu pula:
Setiap wilayah, varietas, posisi daun, musim panen, dan proses pascapanen dapat menghasilkan karakter berbeda.
Justru keragaman itulah kekayaan kita.
Selama bertahun-tahun, salah satu kekuatan Indonesia berada pada produksi bahan baku tembakau.
Daun ditanam.
Dipanen.
Diolah.
Disortir.
Kemudian masuk ke rantai industri yang lebih luas.
Di satu sisi, ini menunjukkan kualitas dan posisi penting tembakau Indonesia.
Tetapi bagi generasi sekarang, muncul pertanyaan baru:
Jika Indonesia mampu menghasilkan tembakau yang digunakan dalam industri cerutu dunia, maka terdapat peluang untuk memperkuat nilai tambah melalui:
PROCESSING
BLENDING
ROLLING
BRANDING
DESIGN
STORYTELLING
HOSPITALITY
dan
CULTURE.
Dari menjual bahan, menuju membangun pengalaman.
Pertanyaan ini terlihat sederhana.
Namun jawabannya dapat sangat luas.
Apakah cerutu Indonesia berarti:
cerutu yang dibuat di Indonesia?
cerutu menggunakan tembakau Indonesia?
cerutu dengan seluruh komponennya berasal dari Indonesia?
atau cerutu yang membawa identitas budaya Indonesia?
Tidak harus hanya satu jawaban.
Kita dapat melihat Cerutu Indonesia sebagai sebuah ekosistem.
↓
↓
↓
↓
↓
↓
↓
Di sinilah sebuah produk dapat berkembang menjadi identitas.
Indonesia memiliki banyak contoh produk yang dikenal berdasarkan asalnya.
Kopi.
Kakao.
Rempah.
Teh.
Dan tembakau.
Namun terdapat perbedaan besar antara:
dan
Komoditas menjawab:
“Apa yang kita hasilkan?”
Identitas menjawab:
“Siapa kita, dari mana produk ini berasal, siapa yang membuatnya, dan mengapa ia berbeda?”
Untuk cerutu Indonesia, pertanyaan kedua inilah yang menarik untuk generasi berikutnya.
Bayangkan sebuah cerutu yang tidak mencoba menjadi Kuba.
Tidak mencoba menjadi Nikaragua.
Tidak mencoba menjadi Republik Dominika.
Tetapi percaya diri mengatakan:
Identitas tersebut dapat dibangun dari:
Tanah dan lingkungan tempat tembakau tumbuh.
Warisan genetika tanaman dan adaptasinya.
Pengetahuan petani, pekerja pengolahan, blender, dan roller.
Cara tembakau Indonesia diterjemahkan menjadi karakter.
Bagaimana produk menghadirkan identitas visualnya.
Cerita manusia, daerah, dan budaya di belakangnya.
Bagaimana cerutu hadir dalam lounge, hospitality, kuliner, kopi, pariwisata, dan percakapan.
Inilah saat cerutu tidak lagi hanya menjadi barang.
Ia menjadi:
Pada EC.11, kita mempertemukan kopi dan cerutu.
Untuk Indonesia, hubungan ini memiliki potensi yang lebih besar.
Bayangkan pengalaman yang dibangun berdasarkan daerah dan cerita:
KOPI NUSANTARA
×
CERUTU NUSANTARA
×
KULINER
×
DESAIN
×
HOSPITALITY
×
STORYTELLING
Indonesia tidak hanya memiliki bahan bakunya.
Kita memiliki kebudayaan untuk membangun pengalaman di sekelilingnya.
Di sinilah cerutu dapat berhubungan dengan ekonomi kreatif.
Ketika berbicara tentang cerutu premium, kita sering melihat band yang indah.
Kotak kayu.
Lounge.
Cutter.
Lighter.
Namun perjalanan sesungguhnya dimulai jauh dari semua itu.
Di kebun.
Ada petani.
Ada pekerja yang memanen.
Ada orang yang melakukan curing.
Ada pekerja fermentasi.
Ada penyortir daun.
Ada blender.
Ada roller.
Ada begitu banyak tangan sebelum sebatang cerutu sampai kepada penikmatnya.
Karena itu, ketika membangun cerita Cerutu Indonesia, manusia tidak boleh hilang.
Warisan tidak berarti kita harus berhenti di masa lalu.
Justru sebaliknya.
Tradisi dapat menjadi fondasi untuk inovasi.
Generasi baru dapat membawa:
riset terroir,
teknologi budidaya,
kontrol fermentasi,
pengembangan blend,
traceability,
desain kontemporer,
digital storytelling,
dan
pengalaman hospitality baru.
Tradisi memberikan akar.
Inovasi memberikan arah.
Sekarang mari melihat kembali seluruh perjalanan Volume I.
ANATOMI CERUTU
Kita mengenal konstruksinya.
WRAPPER • BINDER • FILLER
Kita membuka lapisannya.
TERROIR
Kita kembali ke tanah.
VITOLA
Kita memahami bentuk.
BLENDING
Kita merancang karakter.
FERMENTASI
Kita melihat transformasi daun.
AGING
Kita memberi ruang kepada waktu.
CUTTING
Kita membuka perjalanan.
LIGHTING
Kita memperkenalkan api.
ENJOYING
Kita belajar memperhatikan.
PAIRING KOPI & CERUTU
Kita mempertemukan dua terroir.
Dan akhirnya:
Kita memahami dari mana cerita kita sendiri dapat dimulai.
Masa depan cerutu Indonesia tidak harus dibangun dengan menghapus masa lalunya.
Justru sejarah Deli, Besuki, Jawa, para petani, pekerja tembakau, dan tradisi pengolahan adalah fondasinya.
Tantangannya adalah membawa semua itu menuju generasi berikutnya.
Dari:
DAUN → PRODUK
Dari:
PRODUK → BRAND
Dari:
BRAND → CERITA
Dan dari:
CERITA → IDENTITAS.
Karena mungkin masa depan cerutu Indonesia bukan sekadar membuat lebih banyak cerutu.
Tetapi membuat dunia memahami:
CATATAN PROF. DAPATABI
“Kita tidak perlu mencari identitas cerutu Indonesia terlalu jauh. Ia sudah ada pada tanahnya, daunnya, tangan-tangan yang mengolahnya, dan sejarah yang membawanya melintasi dunia. Tugas generasi kita adalah mengenalinya, menjaganya, lalu memberinya suara.”
Perjalanan dasar kita telah lengkap.
Tetapi Ensiklopedia Cerutu baru dimulai.
Selanjutnya kita dapat masuk lebih dalam:
SEJARAH • TERROIR NUSANTARA • HUMIDOR • ETIKET • CIGAR LOUNGE • CRAFTSMANSHIP • TOKOH • BRAND • INDUSTRI • BUDAYA
Karena di balik setiap cerutu selalu ada cerita yang belum selesai dituliskan.
bersama Prof. Dapatabi Gamanahu
CigarComic.com
Cerita • Edukasi • Budaya Cerutu Nusantara