Menyesap Cerita dari Kota Cerutu
Ada perjalanan yang dimulai karena sebuah undangan. Ada pula perjalanan yang dimulai karena rasa ingin tahu. Bagi Prof. Dapatabi, perjalanan menuju Jember dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:
Bagaimana mungkin selembar daun yang tumbuh dari tanah Indonesia dapat memiliki cerita yang dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia?
Untuk menemukan jawabannya, Prof. Dapatabi menuju Jember Kota Cerutu Indonesia — JKCI Festival 2026. Namun ia segera menemukan bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang cerutu.Ini adalah perjalanan tentang tanah, manusia, pengetahuan, tradisi, inovasi, dan sebuah ekosistem yang sedang mencari jalannya menuju dunia.
Sebelum memasuki ruang pameran, Prof. Dapatabi memilih melihat tempat semuanya bermula.
Perkebunan.
Di antara hamparan daun tembakau, ia bertemu petani yang telah mengenal tanaman itu jauh lebih lama daripada istilah-istilah ilmiah yang sering dibacanya. Sang petani mengambil selembar daun. “Daun yang bagus tidak lahir hanya karena bibitnya, Prof.”
Tanah.
Hujan.
Matahari.
Angin.
Musim.
Dan pengalaman manusia.
Semuanya ikut menentukan.
Prof. Dapatabi memandang daun di tangannya. Satu kata muncul dalam pikirannya:
Terroir.
Tetapi sang petani menjelaskannya dengan bahasa yang jauh lebih sederhana.
“Tanah yang cocok.”
Prof. Dapatabi tersenyum.
Kadang ilmu pengetahuan menciptakan istilah panjang untuk sesuatu yang telah dipahami manusia melalui pengalaman selama beberapa generasi.
CATATAN DAPATABI
Terroir bukan sekadar tempat tanaman tumbuh.
Ia adalah harmoni antara tanah, iklim, waktu, tanaman, dan manusia yang membentuk karakter yang sulit ditiru.
Ketika memasuki JKCI 2026, Prof. Dapatabi berhenti sejenak.
Di hadapannya bukan hanya deretan booth cerutu.
Ada petani.
Manufaktur.
Blender.
Penikmat.
Pengusaha.
Investor.
Komunitas.
Dan tamu dari berbagai negara.
Percakapan terjadi di mana-mana.
Tentang daun.
Tentang rasa.
Tentang produksi.
Tentang pasar.
Tentang masa depan.
Prof. Dapatabi mengamati semuanya.
Kemudian menulis:
“Ini bukan sekadar festival cerutu.”
“Ini sebuah ekosistem.”
Di salah satu sudut pameran, Prof. Dapatabi menemukan sesuatu yang tampak sederhana.
Sebatang cerutu.
Tetapi ketika dibuka lapis demi lapis, kesederhanaan itu menghilang.
Ada tiga elemen utama.
Wrapper.
Pembungkus terluar yang ikut menentukan aroma, penampilan, tekstur, dan kesan pertama.
Binder.
Daun pengikat yang membungkus filler, menjaga konstruksi dan membantu cerutu terbakar dengan baik.
Dan di bagian terdalam:
Filler.
Isi cerutu.
Di sinilah berbagai daun dengan karakter berbeda dapat dikombinasikan untuk membangun body, aroma, kekuatan, kedalaman, dan kompleksitas rasa. Prof. Dapatabi memperhatikannya seperti seorang ilmuwan melihat sebuah mesin.Tetapi mesin ini hidup. Bahan bakunya tumbuh dari tanah. Dan hasil akhirnya sangat bergantung pada manusia.
CATATAN DAPATABI
Cerutu yang hebat bukan tentang menemukan satu daun terbaik.
Ia adalah tentang bagaimana banyak karakter berbeda bekerja sebagai satu kesatuan.
Perjalanan berikutnya membawa Prof. Dapatabi menuju dunia blending.
Berbagai daun tersusun di atas meja.
Masing-masing memiliki karakter.
Ada yang kuat.
Ada yang lembut.
Ada yang memberikan aroma.
Ada yang memberikan body.
Ada pula yang hadir untuk menciptakan keseimbangan.
Prof. Dapatabi memperhatikan seorang blender bekerja.
“Jadi Anda sebenarnya seperti seorang arsitek?”
Blender itu tersenyum.
“Arsitek?”
Prof. Dapatabi menunjuk daun-daun di atas meja.
“Seorang arsitek tidak menciptakan batu, kayu atau baja.”
“Ia menyusunnya menjadi sebuah pengalaman.”
“Dan Anda…”
“…menyusun daun menjadi pengalaman rasa.”
Blender tertawa.
Prof. Dapatabi kembali membuka buku catatannya.
CATATAN DAPATABI
Blending adalah pertemuan antara seni, sains, pengalaman, dan intuisi.
Di JKCI, Prof. Dapatabi kemudian menemukan berbagai cerutu yang membawa identitas Indonesia.
Nama lokal.
Daun lokal.
Karakter lokal.
Namun kualitas dan ambisinya tidak berhenti pada batas geografis.
Di antara eksplorasinya terdapat lini cerutu dari BIN Cigar.
Sakera Piramides.
Gran Cigarro.
Dan satu nama yang membuat Prof. Dapatabi tersenyum:
El Bomba.
Ia mengangkat cerutunya.
“Yang ini tidak perlu penelitian terlalu panjang.”
Seseorang bertanya:
“Kenapa, Prof?”
Prof. Dapatabi tersenyum.
“Karena saya sudah tahu saya menyukainya.”
Untuk sesaat, sang profesor berhenti menjadi peneliti.
Ia menjadi penikmat.
Di bagian lain festival, percakapan berlangsung dalam berbagai bahasa.
Orang-orang datang dengan latar belakang berbeda.
Budaya berbeda.
Pasar berbeda.
Selera berbeda.
Namun ketika mereka duduk bersama, ada satu hal yang menghubungkan mereka:
apresiasi terhadap kualitas dan cerita
Prof. Dapatabi melihat cerutu dari perspektif yang berbeda.
Cerutu ternyata bukan hanya komoditas.
Ia dapat menjadi pembuka percakapan.
Jembatan budaya.
Pertemuan bisnis.
Bahkan bentuk diplomasi yang sangat sederhana.
Tidak selalu melalui podium.
Kadang cukup melalui sebuah meja.
Beberapa kursi.
Dan waktu untuk berbicara.
Malam semakin larut.
Prof. Dapatabi duduk sambil memperhatikan aktivitas JKCI.
Ia mulai menyusun apa yang ditemukannya.
Jember memiliki tanah.
Petani.
Daun berkualitas.
Pengetahuan.
Manufaktur.
Blender.
Produk.
Event.
Komunitas.
Dan jaringan internasional.
Ia menarik sebuah garis dalam buku catatannya.
Dari hulu menuju hilir.
Kemudian ia berhenti.
Nilai terbesar Jember ternyata bukan hanya pada daun tembakaunya.
Nilai terbesarnya berada pada ekosistem yang menghubungkan semuanya.
CATATAN DAPATABI
Ketika sebuah ekosistem kuat, nilai ekonomi tidak berhenti pada bahan baku.
Ia tumbuh sepanjang rantai nilai.
Prof. Dapatabi membuka halaman baru.
Ia mulai menggambar.
Sebuah cigar lounge.
Kemudian menulis:
BALI.
Sketsa kedua muncul.
LABUAN BAJO.
Lalu beberapa kata lain:
CERUTU + KOPI + KULINER + BUDAYA + HOSPITALITY
Prof. Dapatabi terdiam.
Bagaimana jika Indonesia tidak hanya mengekspor cerutu?
Bagaimana jika Indonesia juga menciptakan pengalaman menikmati cerutu Indonesia?
Sebuah tempat di mana cerutu bertemu kopi Nusantara.
Kuliner.
Desain.
Musik.
Budaya.
Pariwisata.
Dan percakapan.
Saat itulah Prof. Dapatabi menemukan sesuatu yang sejak awal sebenarnya sedang ia cari.
Inovasi tidak selalu berarti menciptakan produk baru.
Kadang inovasi terjadi ketika kita menghubungkan hal-hal yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Perjalanan Prof. Dapatabi di Jember akhirnya mendekati akhir.
Ia datang mencari tahu tentang selembar daun.
Tetapi ia pulang membawa pemahaman tentang sebuah ekosistem.
Tentang tanah yang melahirkan karakter.
Petani yang menjaga pengetahuan.
Blender yang menciptakan harmoni.
Manufaktur yang menjaga kualitas.
Brand yang membangun identitas.
Hospitality yang menciptakan pengalaman.
Dan pasar dunia yang menunggu sebuah cerita.
Dari jendela perjalanan pulang, Prof. Dapatabi kembali melihat hamparan tanah Jember.
Kali ini ia melihatnya dengan cara berbeda.
Bukan sekadar perkebunan.
Melainkan awal dari sebuah rantai panjang:
TANAH → PETANI → DAUN → BLENDER → CERUTU → HOSPITALITY → PASAR DUNIA
Prof. Dapatabi menutup buku catatannya.
Lalu tersenyum.
“Teknologi boleh membawa kita menuju masa depan, tetapi masa depan yang kuat selalu tahu dari tanah mana ia berasal.”
-Prof. Dapatabi Gamanahu-
Perjalanan ke Jember selesai.
Tetapi rasa ingin tahunya belum.
Karena setelah memahami dari mana cerutu berasal, muncul pertanyaan berikutnya:
Bagaimana selembar daun itu diolah, diracik, dan diwariskan hingga akhirnya menjadi sebuah mahakarya?
Dan pertanyaan itulah yang akan membawa Prof. Dapatabi menuju perjalanan berikutnya.
Wismilak
CigarComic.com — Special Episode #1
PROF. DAPATABI GOES TO JEMBER
Menyesap Cerita dari Kota Cerutu
Dari Daun Menjadi Mahakarya
Perjalanan Prof. Dapatabi belum selesai.
Setelah menyusuri Jember dan menemukan bahwa sebatang cerutu sesungguhnya bermula jauh sebelum api menyentuh ujungnya - dari tanah, iklim, petani, dan selembar daun. Kali ini langkahnya membawanya menuju Kota Surabaya.
Tujuannya adalah sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan panjang industri Indonesia:
Wismilak.
Di balik bangunan bersejarah itu, Prof. Dapatabi ingin mencari jawaban atas pertanyaan berikutnya:
Bagaimana selembar daun berubah menjadi sebuah mahakarya?
Kunjungan dimulai dari Grha Wismilak.
Bagi Prof. Dapatabi, sebuah bangunan tua bukan hanya kumpulan dinding, pintu, dan jendela. Di dalamnya tersimpan jejak manusia, keputusan, kegagalan, keberanian, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Perjalanan Wismilak sejak 1962 membuatnya menyadari satu hal:
Sebuah merek besar tidak dibangun dalam semalam.
Ia dibentuk oleh waktu.
Dari museum sejarah, Prof. Dapatabi kemudian bergerak lebih jauh.
Menuju tempat di mana sejarah itu masih terus dibuat.
Di dalam proses produksi, ia kembali bertemu dengan sesuatu yang telah dikenalnya di Jember:
daun tembakau.
Namun kali ini daun itu telah memasuki perjalanan berikutnya.
Daun dipilih.
Diperiksa.
Difermentasi.
Disimpan.
Diperlakukan dengan ketelitian.
Kemudian berpindah ke tangan-tangan terampil yang telah mengulang gerakan yang sama selama bertahun-tahun.
Prof. Dapatabi memperhatikannya.
Tidak ada gerakan yang terburu-buru.
Karena dalam dunia cerutu, kecepatan bukan selalu ukuran produktivitas.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting:
presisi.
Di meja produksi, Prof. Dapatabi melihat bagaimana sebuah cerutu hand-rolled dibentuk.
Daun demi daun disusun.
Filler membentuk jiwa dan kompleksitas rasa.
Binder mengikat dan menjaga konstruksinya.
Wrapper menjadi kulit terluar yang menyempurnakan aroma, karakter, dan penampilan.
Kemudian semuanya bertemu di tangan seorang roller.
Di sinilah Prof. Dapatabi menemukan paradoks yang menarik.
Di tengah dunia yang semakin terotomatisasi, produk premium justru dapat memperoleh nilainya dari sesuatu yang sangat manusiawi:
sentuhan tangan.
“Teknologi dapat meningkatkan presisi.
Tetapi pengalaman, intuisi, dan rasa masih membutuhkan manusia.”
-Catatan Dapatabi-
Perjalanan kemudian membawanya semakin dalam menuju dunia rasa.
Prof. Dapatabi bertemu Soegeng Pangestu, master blender yang perjalanan panjangnya memperlihatkan bahwa blending bukan sekadar mencampurkan beberapa jenis tembakau.
Blending adalah tentang keseimbangan.
Tentang memahami karakter setiap daun.
Tentang mengetahui kapan satu karakter harus muncul dan kapan ia harus memberi ruang kepada karakter lainnya.
Prof. Dapatabi tersenyum.
Ia menemukan istilah yang menurutnya paling tepat.
Arsitek rasa.
Seorang arsitek tidak menciptakan batu, kayu, atau baja.
Ia menyusunnya menjadi ruang.
Demikian pula seorang blender.
Ia tidak menciptakan daun.
Ia menyusun karakter menjadi pengalaman.
Eksplorasi berlanjut pada wrapper dengan karakter berbeda.
Java Besuki Na-Oogst.
Connecticut.
Corojo.
Prof. Dapatabi memperhatikan bagaimana perbedaan varietas dan karakter daun dapat mengubah keseluruhan pengalaman sebuah cerutu.
Ia kembali membuka buku kecilnya.
CATATAN DAPATABI
Cerutu mengajarkan sesuatu yang sederhana:
berbeda tidak selalu berarti bertentangan.
Dalam komposisi yang tepat, perbedaan justru menciptakan harmoni.
Perjalanan panjang dari museum, daun, fermentasi, produksi hingga blending akhirnya berujung di sebuah tempat yang jauh lebih tenang.
Cigar lounge.
Prof. Dapatabi duduk.
Sebuah cerutu berada di tangannya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak banyak bertanya.
Tidak mencatat.
Tidak menganalisis.
Ia hanya menikmati.
Karena akhirnya ia memahami bahwa perjalanan sebuah cerutu memang panjang.
Dari tanah.
Ke daun.
Dari daun ke tangan manusia.
Dari tangan manusia menjadi produk.
Dan dari produk...
menjadi pengalaman.
Prof. Dapatabi meninggalkan Wismilak dengan satu pemahaman baru.
Indonesia tidak kekurangan bahan baku.
Kita memiliki tanah.
Kita memiliki tembakau.
Kita memiliki tradisi.
Kita memiliki manusia dengan keterampilan yang diwariskan selama bertahun-tahun.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi produk, pengalaman, cerita, dan identitas yang mampu berbicara kepada dunia.
Ia menutup Catatan Dapatabi.
Kemudian menatap kembali bangunan yang baru saja dikunjunginya.
“Dari tangan manusia yang mencintai proses, lahirlah cita rasa yang melintasi waktu dan batas.”
-Prof. Dapatabi-
Dan perjalanan pun berlanjut.
Karena bagi Prof. Dapatabi, setiap cerutu selalu menyimpan satu pertanyaan berikutnya.
Dari tanah Indonesia, cerita apa lagi yang akan kita bawa kepada dunia?
CigarComic.com — Special Episode #2
PROF. DAPATABI GOES TO WISMILAK
Dari Daun Menjadi Mahakarya